This post has already been read 6 times!

JAKARTA, Monasnews –  Wakil Presiden Eksekutif Privatisasi di Bursa Efek Indonesia, Saptono Adi Junarso, membenarkan bahwa tiga perusahaan BUMN kini tengah menyiapkan diri untuk melaksanakan penawaran umum perdana (initial public offering / IPO) di Bursa Efek Indonesia. Ketiga perusahaan tersebut adalah Wijaya Karya Realty, Tugu Pratama Indonesia, dan Bank BRI Syariah.

Bank BRI Syariah, yang merupakan unit keuangan syariah bank terbesar di Indonesia (dalam hal aset) milik Bank Rakyat Indonesia (BRI), diharapkan bisa menjadi yang pertama di antara BUMN untuk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini, setidaknya  di paruh pertama tahun 2018.

BRI Syariah juga  telah melakukan mini-expose. Dalam IPO kedepan, Bank BRI Syariah akan menawarkan 30 persen saham untuk umum. Perusahaan induknya BRI, yang saat ini memegang 91 persen saham pengendali di unit perbankan syariah, masih akan memiliki saham mayoritas sebesar 66 persen setelah IPO. Per 31 Desember 2017 Aset Bank BRI Syariah mencapai Rp 31,5 triliun (sekitar USD $ 2,3 miliar).

Budi Susanto, Managing Director Danareksa Sekuritas, mengatakan perusahaannya akan bertindak sebagai lead underwriter untuk IPO dari ketiga BUMN tersebut di atas. Namun, Wijaya Karya Realty dan Tugu Pratama Indonesia, keduanya masih perlu menjadwalkan mini expose  mereka di Bursa Efek Indonesia, karena mereka menunggu persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebelumnya, Aloysius Kiik Ro, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Bisnis Kementerian BUMN, mengatakan ada 11 BUMN yang berencana melakukan debut perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada 2018.

Ini akan menjadi kenaikan signifikan dalam IPO BUMN. Pada 2017 hanya empat BUMN yang ditambahkan di Bursa Efek Indonesia: Gedung Wijaya Karya, Fasilitas Pemeliharaan Garuda AeroAsia, Jasa Armada Indonesia, dan PP Presisi. Ini adalah sebanyak BUMN yang melakukan IPO mereka pada periode 2008-2016.

Oleh karena itu, ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia baru-baru ini mendorong daftar lebih banyak perusahaannya di bursa lokal untuk mengumpulkan lebih banyak dana untuk investasi dan perluasan bisnis, sekaligus meningkatkan kinerja perusahaan dan keuangan entitas.

Apakah perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada semester pertama 2018 dapat mengandalkan selera investor sebagiannya tergantung pada faktor eksternal. Jika rupiah terus melemah signifikan menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve Maret lalu, maka investor asing akan ragu berinvestasi di perusahaan tersebut. Sejauh ini pada 2018, investor asing telah menjual lebih banyak saham Indonesia daripada yang mereka beli.

Minat investor terhadap Bank BRI Syariah diperkirakan akan tinggi karena kinerja perusahaan induknya yang kuat. Wijaya Karya Realty, di sisi lain, diperkirakan kurang diminati mengingat valuasi murah perusahaan induknya Wijaya Karya (Wika). Wika adalah salah satu perusahaan konstruksi yang dikendalikan negara yang perlu mengambil hutang signifikan untuk membiayai perannya dalam program infrastruktur ambisius pemerintah.

Badan Usaha Milik Negara yang Diharapkan IPO di Bursa Efek Indonesia pada 2018::

BUMN  Perkiraan Waktu Target
  (Triliun Rupiah)
Wijaya Karya Realty paruh ke-1 th 2018        1.5 – 2.0
PP Urban paruh ke-2 2018            2.0
PP Energi paruh ke-2 2018            2.5
Bank BRI Syariah paruh ke-1 2018            1.0
Indonesia Kendaraan Terminal paruh ke-1 2018            1.0
Krakatau Bandar Samudera sedang dipelajari   sedang dipelajari
Pelabuhan Tanjung Priok sedang dipelajari    sedang dipelajari
Patra Jasa sedang dipelajari    sedang dipelajari
Tugu Pratama Indonesia  paruh ke-1 2018    sedang dipelajari
PG Rajawali 1  paruh ke-2 2018            0.5
Phapros  paruh ke-1 2018        0.7 – 0.8

***

Categories: EMITEN MARKET