This post has already been read 7 times!

Karakas/Houston, Monasnews —  Mantan raja minyak Rafael Ramirez tengah diselidiki kejaksaan  Venezuela  terkait  dengan kasus korupsi senilai 4,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp65 triliun di Wina, Austria.

Mantan CEO  perusahaan perminyakan  Venezuela (PDVSA) dan  pernah menjadi menteri perminyakan itu, sangat berpengaruh lantaran negaranya termasuk pemegang kuota dominan dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bermarkas di Wina.

Click Here!

Jaksa Tarek Saab mengatakan, Ramirez bersama  setidaknya empat pejabat perminyakan lainnya Venezuela itu, dituduh menjual minyak mentah di bawah harga pasar sebagai imbalan atas suap.
Ramirez, yang memimpin PDVSA selama satu dasawarsa, mengatakan kepada Reuters bahwa tuduhan itu merupakan “kebohongan yang terang benderang”.

Click Here for Best Selling WordPress Theme!

Pada awal Desember  ini, pihak berwenang Venezuela telah memperingatkan bahwa mereka akan menyelidiki mantan raja minyak itu. Penyelidikan itu dijalankan di tengah  peningkatan upaya pembersihan tindakan korupsi, yang ditandai dengan telah ditahannya  puluhan pejabat tinggi perminyakan di Venezuela.

“Ramirez tampaknya merupakan tokoh intelektual utama di balik apa yang telah terjadi,” kata Saab, yang telah mengundang Ramirez ke Venezuela untuk membela diri.

Venezuela telah mengeluarkan perintah pencopotan Ramirez dari jabatannya sebagai wakil negara tersebut untuk Perserikatan Bangsa Bangsa di New York pada November 2017.

“Apa yang dikatakan jaksa bukan hanya tidak benar, tapi juga menunjukkan kebodohan yang parah,” kata Ramirez.

Ia mengambahkan bahwa kantor PDVSA di Wina tidak bertugas untuk menjual minyak, melainkan memantau harga ekspor minyak mentah Venezuela.

Dalam pengumumannya pada Jumat (29/12), Saab juga melaporkan penahanan terhadap Nelida Izarra, mantan petinggi kantor cabang PDVSA di Wina, atas dugaan terkait dengan pembelian dan penjualan minyak mentah yang mencurigakan.

Saab juga mengatakan telah memerintahkan penahanan terhadap dua pejabat PDVA lainnya yang bekerja di Austria, yaitu Bernard Mommer dan Irama Quiroz, serta pengacara bernama Mariana Zerpa.

Belum ada keterangan soal di mana Izarra ditahan atau di negara mana para tersangka lainnya berada saat ini.

Categories: GLOBAL