This post has already been read 2 times!

SETUMPUK amplop coklat diletakkan sisi kanan meja. Berkulit gelap berkacamata sebut saja Iman, terlihat serius dengan laptopnya. Kawan yang kebetulan lewat di samping meja menyapa Iman, “Serius amat,” seraya menyungging senyum. Iman membalas dan mengucapkan, “Ah, biasa aja”.

Iman adalah wartawan senior di sebuah media cetak di Jakarta. Ia baru saja mendapat tugas dari atasannya untuk membuat proposal dan harus dikirimkan kepada beberapa narasumber. Ia harus membuat proposal berisi penawaran kerja sama kepada beberapa narasumber yang dikenalnya. Bisa ditebak tentunya kerja sama itu pada akhirnya diharapkan bisa mendatangkan sejumlah dana yang akan menjadi pemasukan untuk perusahaan.

Bagi Iman hal itu harus dijalankan karena perintah atasan. Dualisme wartawan merangkap marketing tampaknya sekarang ini semakin tak bisa dielakkan karena persaingan media cetak yang membutuhkan perusahaan harus terus berkreasi untuk bertahan hidup.

Namun tidak semua bisa melakukan pekerjaan seperti Iman. Di lingkungan perusahaan media cetak lainnya adakalanya rangkap kerja wartawan atau jurnalis dengan mencari iklan bisa lebih vulgar.

Rangkap kerja seperti itu memiliki risiko tersendiri. Hal inilah yang ingin dikemukakan dosen Universitas Bhayangkara Metha Madonna, S.Sos, M.I.Kom yang belum lama ini mengikuti kegiatan International Conference on Media and Communication Studies (ICOMACS) pada tanggal 4 – 5 April 2018 di Bandung.

Dalam makalahnya Metha menyebut perusahaan media massa saat ini, selain menjual isi berita, iklan juga menjadi penopang terbesar bagi biaya operasional. Metha selanjutnya bertanya apa jadinya jika iklan mengesampingkan independensi dan profesionalitas jurnalis akibat perubahan peran dalam bertugas menjadi wartawan pemburu iklan?

Metha yang dosen peneliti Universitas Bhayangkara Jakarta Raya ini mengungkapkan peran dan fungsi wartawan kian bertambah dengan tugas barunya sebagai pencari iklan. “Bernegosiasi atau minimal menjembatani pihak marketing dengan pemasang iklan menjadi tanggung jawab baru selain menulis berita,” jelas Metha yang membawakan makalah penelitiannya di ICOMACS dengan judul “Independence of Journalist ini Facing Advertisers Sources (Case Study: Commodification of Workers in TOP Newspaper).

Selanjutnya Metha mengatakan fenomena terjadinya komodifikasi pekerja pers tersebut tak terhindarkan. Posisi jurnalis yang strategis berhubungan dengan narasumber, instansi atau lembaga yang potensial memasang iklan. “Bahkan ada yang memang mengandalkan kemampuan wartawannya dalam mendapatkan iklan dan itu menjadi pertimbangan di apresiasi atau di mutasi,” ujar Metha.

Menurut Metha permasalahan serius bukan cuma dana pemasukan dari iklan yang dicari media dan jurnalis, tapi juga dana hibah yang berasal dari pembuatan berita pencitraan (titipan) dari narasumber. Kondisi ini pun pada dasarnya tidak hanya faktor internal yaitu perusahaan media tapi juga lebih dikarenakan faktor dalam diri wartawan sendiri.

Dikarenakan terdesak kebutuhan ekonomi dan mencari penghasilan tambahan sehingga terpaksa mencari dan berupaya mendapatkan iklan dengan harapan bisa mendapat insentif. Kondisi inipun menjadi sebuah peluang bagi narasumber untuk dapat beriklan dengan jalan pintas tanpa harus melalui bagian marketing yang mempunyai berbagai macam prosedur dan harga yang mahal.

“Tentu sulit mengharapkan pers yang independen dan profesional jika melihat adanya media yang menggantungkan perusahaannya pada dana iklan, advertorial atau hibah dari pihak-pihak terkait,” katanya.

Oleh sebab itu menurut Metha Madonna, ada baiknya pihak perusahaan media lebih mengedepankan independensi dan profesionalitas wartawan, dengan cara di antaranya bagian redaksi jangan dicampuradukan dengan bagian perusahaan, dalam hal ini mencari iklan. Selain itu
lebih memperhatikan kesejahteraan wartawannya. Sehingga terhindar dari hal-hal yang dapat meragukan kredibilitas perusahaan media tersebut. [ALIFIN S]

Categories: MEDIA

Leave a Reply