Ini yang Bikin Serapan PMN Krakatau Steel Belum Optimal

CILEGON, BANTEN, Monasnews – Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengakui, penyerapan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,5 triliun yang diberikan beberapa tahun lalu masih minim.

Suntikan modal pemerintah, seyogyanya dialokasikan untuk membiayai operasional proyek hot strip mill 2 (HMS #2) atau baja lembaran panas sekitar Rp1 triliun dan pembangunan PLTU berkapasitas 1×150 megawatt Rp500 miliar. “Persoalannya, pabrik HSM#2 belum rampung,” kata Mas Wignatoro.

Pabrik HSM #2 akan memiliki kapasitas 1,5 juta ton baja lembaran panas (HRC) per tahun, sehingga dapat menambah kapasitas produksi perseroan saat ini dari 2,4 juta menjadi 3,9 juta ton HRC per tahun. Proyek ditargetkan rampung pada 2019.

Wignatoro menambahkan,  alokasi PMN yang semula untuk operasional proyek dialihkan menjadi belanja modal. Oleh sebab itu, manajemen KS meminta izin kepada Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Jaksa Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dapat menyetujuinya.

“Kami juga diminta untuk berkonsultasi dengan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Dan mereka bilang tidak masalah,” tuturnya. Dia berharap,  keputusan pengalihan alokasi PMN dapat terbit pada Maret ini.

Di sisi lain, pembangunan PLTU 1×150 MW tertunda. Sebab, rencana semula dibangun PLTG berkapasitas 2×80 MW, namun kebutuhan dana akan lebih besar. Al hasil, manajemen memutuskan untuk membangun PLTU yang diharapkan dapat ground breaking Maret 2018.

“Kebutuhan dana proyek PLTU mencapai Rp3,5 triliun. Kami sudah terima PMN Rp500 miliar, sisanya cari sumber pendanaan lain,” ujarnya.[*]

Leave a Reply