Kasus Anies tutup Jl. Kalibaru bisa berbuntut dapat "SP" dari Kemendagri

GUBERNUR  DKI Jakarta Anies Baswedan masuk kategori melakukan pelanggaran administrasi jika tidak menghiraukan rekomendasi yang disampaikan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) terkait dengan penutupan Jl. Kalibaru, Tanah Abang, Kota Administratif Jakarta Pusat.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono, menanggapi diserahkannya rekomendasi ORI kepada Pemprov DKI Jakarta.  Rekomendasi ORI,  Selasa (26/3/2018)  kemarin disampaikan  kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,  perihal kebijakan penutupan Jalan Jatibaru di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Menurut Sumarsono, apabila kepala daerah  tidak mematuhi rekomendasi Ombudsman, maka konsekuensinya adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan disebut telah melakukan pelanggaran administratif.

“Kami sebut namanya pelanggaran administratif, itu misalnya dikatakan dia tidak melaksanakan rekomendasi Ombudsman sebagai tindak lanjut pengaduan masyarakat atas penyelenggaraan pemerintahan daerah,” kata Sumarsono, kemarin.

Dikatakan,  sanksi administratif pelanggaran ini tercantum dalam Pasal 37 ayat 4 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Ada beberapa sanksi yang bisa diberikan kepada kepala daerah yang melakukan pelanggaran administrasi. Sanksinya bisa teguran tertulis, tidak diberi hak keuangan selama 3 bulan, tidak diberi hak keuangan selama 6 bulan, penundaan evaluasi raperda, pengambilalihan kewenangan perizinan, penundaan pemotongan Dana Alokasi Umum, disuruh mengikuti program pembinaan khusus, pendalaman bidang pemerintahan sanksi individual, sanksi pemberhentian sementara selama 3 bulan, dan pemberhentian tetap.

“Sanksi macam-macam ini Kemendagri yang akan mengkaji dan menilai,” katanya.

Menurutnya, sebelum pemerintah pusat menjatuhkan  sanksi,  Kemendagri akan mengkaji terlebih dahulu tingkat pelanggaran administrasi yang dilakukan kepala daerah. Pada tahap pertama, Kemendagri akan memberi surat teguran tertulis pertama untuk kepala daerah. Setelah itu  akan diberikan surat teguran tertulis kedua.

“Baru kemudian pemberhentian sementara 3 bulan dan kemudian kalau tetap tidak dijalankan juga, baru pemberhentian tetap,” kata Sumarsono.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Sumarsono, bahwa  tahapan pemberian sanksi bagi kepala daerah yang melakukan pelanggaran administrasi memang sangat panjang. Dengan demikian, tidak  bisa langsung diberhentikan begitu saja.

“Karena gubernur kan pimpinan tertinggi di daerah, jadi ada mekanismenya. Ditegur tertulis ada respon atau tidak, kalau tidak teguran kedua,” ujar Sumarsono.

 

Malaadministrasi

ORI  sebelumnya menyatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan empat tindakan malaadministrasi dalam penutupan Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penutupan jalan itu, berdasarkan temuan Ombudsman, memperlihatkan kebijakan Pemprov DKI yang tidak kompeten, menyimpang secara prosedur, mengabaikan kewajiban hukum, dan melawan hukum.

ORI menilai,  Pemprov DKI perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan penataan ulang kawasan Tanah Abang sesuai peruntukannya agar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Hal itu demi menghindari praktik malaadministrasi yang terjadi saat ini dengan membuat rancangan induk atau grand design kawasan dan rencana induk penataan PKL, menata dan memaksimalkan Pasar Blok G, dan mengembalikan fungsi Jalan Jatibaru Raya Tanah Abang sesuai peruntukannya.

ORI juga merekomendasikan menetapkan masa transisi guna mengatasi malaadministrasi yang telah terjadi dalam jangka waktu selambat-lambatnya 60 hari dengan melibatkan partisipasi semua pemangku kepentingan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Selain itu, Pemprov DKI diharuskan untuk  memaksimalkan peran dan fungsi Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sesuai tugas dan fungsi instansi terkait sebagaimana ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2011 tentang Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.***

 

Leave a Reply