Keputusan Prabowo untuk mencalonkan diri sebagai kandidat presiden 2019, menguntungkan Jokowi

JAKARTA, MonasNews – Keputusan Partai Gerindra untuk kembali mengusung  ketua umumnya, Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019, dapat dipandang sebagai  menguntungkan calon petahana (incumbent) Joko Widodo.

Dalam pandangan Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik dari Voxpol Center, tampaknya ada upaya dari kubu Jokowi untuk mendorong re-match  Jokovi vs Prabowo, dengan harapan sang petahana menang   secara mudah.

Tampaknya,  skenario kubu Jokowi akan berhasil. “Jadi agenda setting geng Jokowi ini kelihatan sekali. Bagaimana caranya, agar terulang kembali head to head Jokowi dengan Prabowo. Jokowi bisa mengalahkan Prabowo di Pilpres 2014. Sekarang yang dilawan Prabowo adalah Jokowi sebagai incumbent. Dulu Jokowi bukan incumbent saja Prabowo kalah,” jelasnya, Minggu (15/4/2018).

Dalam bacaan Chaniago, indikasinya salah satu  adalah langkah Luhut Binsar Pandjaitan yang beberapa hari lalu konon  telah meminta Prabowo maju sebagai capres. Kalau Prabowo maju,  maka mungkin ada deal lain atau bonus yang diperoleh Prabowo.

“Maju tapi kalah, enggak apa-apa, kalau Prabowo berdagang di situ. Dan kalau Prabowo maju, maka otomatis juga mengangkat elektabilitas Gerindra. Kalau Prabowo head to head sama Jokowi, itu artinya sama saja Prabowo kembali memberikan tiket gratis kepada Jokowi menjadi presiden dua periode,” tegasnya.

Seharusnya, tandasnya, Prabowo belajar banyak dari Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri yang selalu kalah saat maju sebagai capres. Pada akhirnya,  Megawati kemudian  memilih menahan diri dan merelakan PDIP mengusung Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2014.

Menurutnya hal ini karena masyarakat juga sudah jenuh terhadap Prabowo dan elektabilitas Prabowo sudah klimaks. Ibarat film, terangnya, Prabowo adalah film lama dan sudah usang.

Menurut Pangi, mendaur ulang pertarungan lama yaitu head to head Jokowi-Prabowo, pada pilpres 2019 menjadi tidak menarik lagi untuk ditonton.

“Padahal masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik dan seru,” tegasnya.

Di sisi lain, urainya, kekuatan mesin partai pendukung Prabowo di pilpres nanti kalah banyak dan kalah kuat dari koalisi parpol pendukung Jokowi.

Selain itu, tambah Pangi, saat ini Jokowi sedang menyiapkan beberapa senjata pendongkrak elektabilitas yang membuat pemilih enggan mendukung kandidat lain.

Beberapa senjata pendongkrak yang disiapkan salah satunya berkaitan dengan infrastruktur dan gaya merakyat Jokowi yang akan membuat Prabowo makin sulit mengimbangi. Apalagi dengan keunggulan pembangunan infrastruktur yang menjadi kelebihannya.

Sementara, lanjutnya, ketakutan kubu Jokowi justru apabila Gatot maju dan Prabowo menjadi king maker-nya. “Saat ini adalah momentum emas untuk Gatot dengan pertumbuhan elaktabilitasnya yang masih terus menanjak,” ujarnya.

“Jika dibandingkan dengan Prabowo, nama Gatot bisa dikatakan sebagai penantang tangguh Jokowi,” jelasnya seperti dikutip Bisnis. 

Mengenai dugaan jika Prabowo tidak maju maka akan menenggelamkan Gerindra, tesis ini menurutnya perlu diuji kembali. Ia menyebut soal teori locomotif effect terkait upaya menyelamatkan Gerindra.

Jalan tengahnya, lanjut Pangi, bisa saja dengan “mengkaderkan” atau “meng-Gerindra-kan” Gatot yang dipasangkana dengan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres. Hal itu, menurut Pangi, justru berpeluang menyelamatkan elektabilitas Gerindra bahkan menjadi lebih besar.

“Ketika Anies ditarik jadi capres atau cawapres, ada keuntungan lain yang diperoleh Prabowo dan Gerindra yaitu Sandiaga Uno sebagai kader Gerindra otomatis naik menjadi Gubernur DKI,” paparnya.

Keterangan foto: Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, seusai acara pelantikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno, di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). – ANTARA /Setpres Agus Suparto

Leave a Reply