This post has already been read 8 times!

 

 

Oleh: Chryshnanda DL

MASALAH  lalu lintas sampai dengan undang-undangnya dijadikan issue yang hampir-hampir mengabaikan road safety. Kebanggaan dari kewenangan sampai dengan tindakan-tindakan pengimplementasianya seakan prasarana dan sarana dijadikan tujuan. Pemahaman lalu lintas secara konseptual lagi-lagi sebatas gerak pindah. Implementasi yang manual parsial dan kinvensional dengan berbagai ego sektoral lagi-lagi menjadi kebanggaanya. Pola pemadam kebakaran senantiasa mjd unggulan dan menjadi gembar gembor media. Belum lagi hukum dan penegakkan hukum seakan menjadi hantu jalanan yang meresahkan.

Sedih dan memalukan tatkala memahami bahwa lalu lintas sebagai refleksi budaya bangsa dan dipahami sebagai urat nadi kehidupan. Kematian dan kecacatan hingga kerugian material yang luar biasa tak juga menjadikan rasa haru para pemangku kepentinganya. Mungkin akan tersinggung bahkan marah tatkala dikritik keras, namun faktanya terpampang pameran ketololan yang sehari hari nampak.

Contoh saja pengaturan ala ganjil genap yg menunjukkan kelelahan dan kemalasan berpikir. Padahal movement urban management bisa dilakukan. Sistem big data yang tidak segera terbangun, lagi-lagi teknologi sebatas seremonial dan menyenangkan ndoro-ndoro untuk supervisial atau launching belaka.

Penanganan e-tilang yang mana dari sistem CJS yang masing malah membuat rumit dan ladang pungli baru. Semestinya bisa dibuat tabel denda supaya dapat ditemukan rasa keadilan dan tidak perlu susah payah membayar ke kejaksaan dan uang di bank tatkala di cek “ok tidak  ada masalah, segera dikirim ke “rekening simponi”. Perebutan penggunaan sumber daya di lapangan terus menerus dijadikan ajang kewenangan.

Dana preservasi jalan yang tidak lagi dibuat perpresnya dijadikan issue revisi Undang-undang. Angkutan berbasis on line menjadi kambing hitam dan sebagai acuan kesepakatan dari salah satu stake holder yang mendorong Komisi V berinisiatif merombaknya. Sistem penanganan kecelakaan yang sebatas pada pro justitia semata. Sistem-sistem penurunan tingkat fatalitas korban kecelakaan diabaikan dan penindakkan surat-surat trayek saja dilakukan. Pelanggaran over dimensi over load tidak tertangani. Kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan bermotor yang tidak seimbang dan banyak lagi hal yang menjadi  fakta atas pen-seksian dari lalu lintas. Kemana road safety ? Jawabanya mbuh… atau baru dicari cari pembenaran-embenarannya dan rasionalisasi-rasionalisasinya othak athik gathuk.

Siapa terharu dengan road safety? Apakah mbuh juga? Para pakar transportasi, pakar hukum, pakar IT, pakar-pakar  ilmu sosial lainya bisa saja marah kalau dituduh sama dengan mbuh. Pejuang-pejuang road safety memang sudah  ada apresiasinya sebagian, namun membangkitkan rasa haru bagi para ndoronya mungkin belum.

Hal ini bisa dibuktikan dengan sulitnya membangun safety driving centre/ pendidikan keselamatan / sekolah mengemudi berstandar nasional dan internasional. Hipotesa saya, para pengemudi angkutan umum bus / truk, bisa saja hanya mantan kernet. Bisa jadi mereka hanya memiliki skill dan pengalaman, namun pengetahuan tentang safety sangat minim.

Para pengendara kendaraan bermotor yang  abai akan seat belt. Sistem pemantauan speed minimal dan maksimal pada jalur-jalur tertentu yang blm ada, kalaupun ada masih sebatas hiasan. Pola penanganan kemacetan masih saja mengandalka tenaga petugas lapangan. Penilaian dari PBB tentang road safety yang buruk pun dianggap sebagai over view biasa?

Mungkin akan banyak lagi keluhan-keluhan tentang road safety yang semestinya di era digital ini meningkat. Lalu lintas menjadi sangat sexy karena sarat kewenangan dan sumber daya. Potensi-potensi inilah yang menjadi incaran dari undang-undang sampai lapanganya namun road safetynya diabaikan. Mungkin akan marah lagi tatkala dikritik mengabaikan road safety. Lihat saja core value dari para pemangku kepentinganya.

Apakah akan menyerah sampai di sini? Tentu saja tidak. Mengkritisi untk membamgun bukanlah jilatan untk menyenang nyenangka ndoro-ndoronya atau sekedar pokoknya tugas melainkan berjuang untuk kemanusiaan dan menjadikan keselamatan yang pertama dan utama.

Apa yg mesti dilakukan? Walaupun bisa saja dilakukan secara bottom up tanpa menunggu ndoro terharu, namun political will tetap penting.

Kedua adalah membangun IT for road safety. Program IT for road safety merupakan langkah mendasar untuk memetakan, membuat model, penanganan secara holistik atau sistemik, pendekatan berbasis pada scientific dan teknologi, terbangunya big data dalam back office yang diinput melalui berbagai aplikasi dan juga akan dikaji melalui riset secara ilmiah.

Hal-hal yang dilakukan inputing data adalah membuat kategori mengidentifikasi akar masalah penyebab dari setiap permasalahan terkait road safety. Aplikasi pendukung back office adalah membangun automatisasi system inputing data yang diperoleh dari berbagai sumber (laka, langgar, traffic attitude record, jalan, kendaraan, alam, lingkungan dan masalah sosial kemasyarakatan dan penyebab lain yang mungkin menjadi menjadi penyebab). Semakin banyak sumber data masuk, semakin akurat dalam hal hasil analysis.

Accident Data Analysis, adalah proses pendalaman data data terhimpun menuju kesimpulan terkait penyebab. Hipotesa yang dihasilkan dari Accident Data Analysis, perlu di Uji melalui research. Traffic Accident Research, merupakan proses pengujian kebenaran dari hypotesa yang dihasilkan dari Data Analysis. TARC Merekonstruksi hypotesa dan TAA dalam sebuah scenario uji teknis.
TARC, Menghasilkan kesimpulan tentang penyebab dan membangun rumusan strategy pemecahan dalam ruang lingkup :
1) Edukasi / Pencerahan
2) Law Enforcement
3) Standard Procedur Penyelesaian (Preventif & post crash).

Ketiga, menggelorakan strategy (Edukasi ) yg melihat juga analisa dari Law Enforcement.
Strategy yang diterapkan berdasar cakupan masalah yang dihadapi (relatif). Landasan yang dipakai adalah hasil dari TARC. Yang juga dikaitkan pada sistem uji SIM dan pola penindakan pelanggaran penyebab fatalitas korban laka ( helmet, speed, drink driving, seat belt, child restrain, penggunaan HP saat berkendara, melawan arus)

Keempat, membangun sdm yg merupakan team work dg memiliki karakter Kapasitas untuk Menguasai dan memahami kemampuan internal guna mendapatkan informasi rasio perbandingan besaran masalah vs team yang menangani.

Kapasitas Team ini juga termasuk dalam kemampuan terkait penggunaan alat bantu (Information Technology). Selain dari standard kemampuan dan pengetahuan tentang road safety dan core bussines proses. Implementasi IT dalam setiap pos penyelesaian maslah road safety melalui smart management dengan catatan core bussines prosesnya jelas, alurnya nyambung dan logic sebagai kontruksi dan rekonstruksi secara konseptual maupun implementasinya sehingga dapat ditemukan model dan pola-polanya.

Dengan demikian sistem-sistem inputing data terintegrasi dgn Satu basis data (Output dari TARC), IRSMS, traffic attitude record, ERI, SSC dan SDC.

Data laka menjadi fokus perhatian akan dikembangkan kajianya melalui TARC untuk dapat mengumpulkan dari berbagai sumber yang salah satunya laka, data TAA dan sumber external, selanjutnya melakukan proses pengkajian dan Pengujian dengan melibatkan berbagai disiplin Pengetahuan. Sehingga hasil dari TARC tingkat akurasinya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara hukum dan fungsional kepolisian.

Ke-4 point diatas dalam mengembangkan IT for road safety yang dibangun adalah sebagai berikut:
1. Sistem big data yang mencakup: a. Jalan dan sistem-sistemnya, b. Kendaraan yang melintas sebagai alat transportasi, c. Pengguna jalan inilah pentingnya traffic attitude record, d. Situasi alam lingkungan yang dipetakan dalam kategori black spot dan trouble spot yang bertingkat-tingkat dengan kode-kode angka atau warna sesuai tingkat kerawananya, e. Pemetaan maslah atau hal-hal yang menjadi perlambatan atau konflik-konflik sosial.
2. Data-data yang ada di 5 point tersebut dibuat sistem analisa dengan analogi beragam sebagai contoh a+b+c akan ketemu pola pergerakan dan prediksi kepadatan arus sehingga bisa dilakukan sistem antisipasi dan solusinya. Contoh lain a+d+e menjadi sistem peta digital yang bisa menjadi bagian untuk quick respon time sehingga peralatan dan kompetensi petugas bisa di siapkan. Contoh lain b+c bisa dibuat sistem pendidikan keselamatan dan sistem uji SIM serta traffic attitude recordnya dan demerit point system. Contoh lain b+e dapat dibuat sistem-sistem angkutan massal dan juga pembatasan atau berbagai pengaturan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan sebagainya.
3. Setiap peralatan teknologi tidak akan berfungsi apabila tidak ada orang-orang yang mengawakinya maka sistem-sistem operasional pengawasan sampai dengan penanganan dan pelayanan prima diperlukan program-program training, master trainer dan trainernya. Juga latihan-latihan problem solving sebagai simulasinya.
4. Sistem operasional penjagaan pengaturan pada situasi normal samapia dengan kontijensi dilakukan secara virtual dan aktual sehingga dapat dilihat apa yang telah, sedang dan akan terjadi dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusi prima dari petugas-petugas lapangan. Maka back office akan menjadi bagian penting menggerakan aplikasi dan sistem-sistem elektronik secara online maupun atas petugas-petugas lapangan.

Pada situasi khusus juga bisa memantau atau menjamin keamanan dan keselamatan VVIP atau VIP dengan juga ada jaminan akan kepastian waktu untuk jarak tempuh dan waktu tempuh. Juga jaminan kenyamanan yang dapat diberikan.
Pada situasi kontijensi ada standar-standar waktu solusi akibat bencana alam, kerusakkan infrastruktur maupun adanya tindakan-tindakan kriminal dari yang konvensional sampai dengan terorisme dapat diprediksi dan diantisipasi serta solusinya untuk tetap terjaminya keamanan dan keselamatan pengguna lalu lintas dan warga sekitarnya.
Sistem operasional menjadi pusat komando, pengendalian, koordinasi, komunikasi dan informasi melalui back office melalui sistem virtual dan aktual secara prima untuk terjaminya keamanan, keselamatan, keteraturan, kelancaran yang aman, nyaman, selamat dan tepat waktu sampai tujuan.
5. Sistem-sistem pendukung untuk mengatasi point 1 secara sistematis dan terkoneksi dalam one gate service. Maka big data dan sistem-sistem lainya menjadi sangat penting dan perlunya dibuat modelnya sehingga dapat direncanakan untuk SDM-nya, alat peralatan pendukung ( perorangan , unit atau kelompok sampai dengan kesatuan).
6. Hal-hal yang sifatnya emergency atau terjadi kecelakaan maka sistem-sistem quick response time menjadi andalan dan sistem pelaporan data menjadi penting. Sistem TPTKP dan sistem-sistem identifikasi hingga scientific investigation menjadi bagian untuk dasar bagi TAA (Traffic Accident Analysis) bekerja mendukung proses penyidikan / untuk projustitia.
Adapun untuk kepentingan yang lebih luas dalam meningkatkan kualitas keselamatan, menurunkan tingkat fatalitas korban laka dan membangun budaya tertib berlalu lintas agar senantiasa terwujud dan terpeliharanya keamanan keselamatan dan ketertiban berlalu lintas di sinilah wadah riset kecelakaan dibangun / TARC ( Traffic Accident Research Centre).
7. Pelayanan-pelayanan prima ini semua akan di bangun sistem-sistem yang mendasar pada era digital adalah adanya back office, aplication dan network yang implementasinya terwujud dalam TMC sebagai big system pendukung road safety management yang didukung sistem-sistem :
a. SSC (Safety and Security Centre) mendukung safer road yang berisi sistem-sistem untuk pemetaan black spot dan trouble spot, speed management, traffic count, e sidik, e tilang, sistem data laka (IRSMS).
b. ERI (Electronic Registration and Identification kendaraan bermotor) sebagai pendukung saver vehicle yang berisi sistem verifikasi dokumen dan fisik kendaran bermotor (secara fisik kasat mata, transmisi, emisi gas buang sampai dengan nomor rangka dan nomor mesin) pada sistem ERI untuk jaminan legitimasi pengoperasional pada bagian STNK dan TNKB akan di lengkapi dengan obu (on board unit), RFID (Radio Frequency Identification), atau sistem-sistem ANPR (Automatic Number Plates Recognation). Sistem ERI ini akan mendukung forensik kepolisian dan ELE. Juga menjadi dasar program ERP (Electronic Road Pricing), ETC (Electronic Toll Collection), e-parking, e-samsat, e-banking dan Electronic Law Enforcement.
c. SDC : Safety Driving Centre untuk mendukung program saver road users. Pada sistem ini mencakup sekolah mengemudi, sistem uji SIM dan sistem penerbitan SIM yang dikembangkan dalam TAR ( Traffic Attitude Record / catatan perilaku berlalu lintas) ini bisa untuk pengemudi maupun kendaraan bermotornya yang akan dikaitkan pada sistem demeryt point ( ini sebagai pertanggungjawaban baik pengemudi maupun pemilik kendaraan atas kendaraan miliknya yang dioperasionalkan di jalan).
d. Intan ( Intellegence Traffic Analysis) mendukung program post crash care. Intan merupakan sistem-sistem gabungan point a, b, c yang terwujud dalam sistem peta digital sistem komunikasi dan solusi yang terkoneksi melalui call and comand centre. Seperti contoh 110 atau nomor-nomor darurat lainya. Intan akan berkaitan dengan pemadam kebakaran, PLN, ambulan 119, rumah sakit, SAR bahkan juga dengan PSC (Public Safety Centre), petugas-petugas pengawalan dan patroli jalan raya (denwal PJR), juga petugas-petugas emergency dari stakeholder lainya.
8. Point 1 sampai dengan 7 akan diatur atau diintegrasikan berbasis SOP yang mencakup :
a) Job Description dan Job Analysis masing-masing bagian
b) Standardisasi keberhasilan tugas
c) Sistem penilaian kinerja
d) Sistem reward and punishment
e) Etika kerja ( apa yang harus di lakukan dan apa yang tidak boleh dikerjakan/ do dan don’t)
Point a sampai dengan e inilah yang tercakup pada smart management.
9. Point 1 sampai dengan 8 akan diawaki petugas-petugas yang siap 1×24 jam dan 7 hari seminggu tanpa putus pada cyber cops. Petugas-petugas cyber cops akan bertugas pada back office untuk inputing data, mengalisa dan menghasilkan produk-produk untuk prediksi, antisipasi dan solusi yang dinamis bahkan sell on time dan real time, sehinga sistem-sistem penangan angkutan umum secara online, pengaturan, penjagaan bisa mencover seluruh sudut kota, jaminan kamseltibcar lantas dapat dilakukan, penanganan emergency dilakukan, sistem-sistem research pun akan dapat diback up secara scientific yang tingkat akurasinya tinggi, terbangunya budaya tertib melalui ELE, demeryt point system maupun traffic attitude record nya.

Kualitas pengguna jalan meningkat dan sistem-sistem kontrol angkutan umum maupun pribadi bisa terkontrol secara cepat dan tepat. Memback up program-program stakeholder lainya yang berkaitan dengan kriminalitas sampai dengan hal-hal yang bersifat emergency bahkan kontijensi sekalipun. lalu lintas sexy-nya karena care dan profesional dlm menangani road safety sehingga amanat UULLAJ dapat dilaksanakan. Lalu lintas secara konseptual dan teoritikan dapat tertangani dan adanya pelayanan prima.

Dan amanat PBB tentang  road safety menjadi core value dan core function secara  manajemen maupun operasionalnya. Tentu terwujud dan terpeliharanya kamseltibcar lalu lintas. Meningkatnya kualitas keselamatan menurunya tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas. Terbangunya budaya tertib berlalu linyas dan senantiasa meningkatnya pelayanan di bidang LLAJ.

 

 

Categories: OPED