MayBank Indonesia Raih Net Profit Rp1,4 Triliun, Q3/2017

Jakarta, Monasnews — PT Bank Maybank Indonesia Tbk. meraih net profit setelah tax dan kepentingan non-pengendali pada kuartal 3 (Q3)/2017 sebesar 12% menjadi Rp1,4 triliun dibandingkan dengan Q3/2016.

Pencapaian itu juga mengantar  pertumbuhan pendapatan bunga bersih perseroan   naik sebesar 4,3% menjadi Rp5,7 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Posisi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perseroan juga berada pada kisaran 5,2%.
Lalu, dari pendapatan nonbunga, perseroan mencatatkan kenaikan sebesar 7,9% menjadi Rp2,1 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Kenaikan pendapatan nonbunga itu didorong dari komisi bancassurance, komisi treasury, administrasi ritel, administrasi kredit, pengembalian kredit, dan jasa lainnya.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, dengan pertumbuhan pada segmen global banking, perseroan memperkirakan dapat terus mendorong kinerja dari segmen tersebut.

“Kami juga melihat peluang ekspansi bisnis pada segmen community finansial service non ritel ke depannya. Kami tetap optimistis sampai akhir tahun ini di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (29/10/2017).

Adapun kinerja perseroan pada kuartal ketiga itu mendapatkan dukungan dari pertumbuhan kredit, terutama dari segmen global banking. Selain itu, perolehan laba juga didorong oleh pengelolaan biaya yang efektif dan pencapaian kinerja perbankan syariah yang baik.

Sampai akhir September 2017, bank berkode emiten BNII itu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 4,6% menjadi Rp121,8 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu senilai Rp116,4 triliun.

Secara rinci, segmen global banking mencatatkan pertumbuhan kredit yang paling besar dibandingkan dengan segmen lain setelah naik 29% menjadi Rp28,2 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Pertumbuhan kredit pada segmen itu didorong oleh pembiayaan infrastruktur yang selaras dengan program pemerintah Indonesia.

Lalu, pada segmen community finansial service non ritel yang terdiri dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencatatkan kenaikan sebesar 3,4% menjadi Rp51,4 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Di sisi lain, untuk kredit ritel susut 6% menjadi Rp42,2 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Segmen itu mengalami tren penururnan seiring dengan pertumbuhan sektor konsumer yang lebih lambat.

Dari segi dana pihak ketiga (DPK), Maybank Indonesia telah menghimpun senilai Rp119,1 triliun sampai akhir kuartal ketiga tahun ini. Dari total DPK itu, porsi dana murah perseroan sebesar 38% setelah produk giro tumbuh 10,2% menjadi Rp20,8 triliun.

Dengan pertumbuhan kredit dan DPK itu, posisi loan to deposit rasio (LDR) bank only perseroan pun berada pada kisaran 87,6%, sedangkan loan to funding rasio (LFR) berada pada kisaran 86,3%.

Dari sisi rasio kredit bermasaah atau non performing loan (NPL) konsolidasi gross perseroan berada pada level 3,9%, sedangkan NPL net berada pada posisi 2,4%.

Maybank Indonesia pun mengurangi biaya provisi sebesar 15,1% menjadi Rp1,3 triliun. Walaupun begitu, perseroan mencatat masih akan tetap konservatif dalam mengelola kualitas aset seiring dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang masih tertantang.

Leave a Reply