Mengapa perlu ada Catatan Perilaku Berlalu Lintas ?

Oleh: Dr. Brigjen Chryshnanda DL

TATKALA gagasan untuk membangun sistem pencatatan perilaku berlalu lintas (CPB)/ traffic attidue record (TAR), boleh dikatakan tidak ada yabg terharu. Entah tak tahu, atau tidak mau tahu atau krn sdh nyaman dg kondisi pengelolaan administrasi kendaraan bermotor dan pengemudi seperti  sekarang ini.

CPB merupakan bagian dari fungsi pengawasan dan pengendalian berlalu lintas, untuk membangun budaya tertib berlalu linyas, jga untuk keamanan keselamatan.

Pelanggaran-pelanggaran lalu lintas begitu banyak dari yang berdampak kemacetan, hingga yang berdampak terjadinya kecelakaan, semakin meningkat, bahkan ada yang sengaja melakukan. Kita bisa melihat perilaku pengendara kendaraan di Jakarta, mereka tampak sekali dengan sadar dan sengaja melawan arus, parkir sembarangan, meneronos lampu merah, melanggar rambu dsb. Para pelanggar tanpa ragu dan rasa malu terus saja melanggar. Bagi para pengusaha angkutan umum, penyimpangan standar dari administtasi sampai dengan operasional, juga sama dengan sadar dan sengaja dilakukan. Mereka berpikir KUHP (kasih uang habis perkara). Sistem-sistem dalam penegakkan hukum yang tidak praktis dan berbelit belit, telah menjadi sarang calo dan menjadi ajang pemerasan maupun penyuapan. Penindakan yang dilakukan, juga tidak menimbulkan  efek jera atau tumbuhnya kesadaran.

 

Perawatan kendaraan yang serampangan dan pengoperasionalan kendaraan bermotor yang sembarangan. Over loading ( lebih muatan) menjadi kasus klasik yang seolah tanpa solusi, berulang dan terus berulang terjadi. Demikian halnya pelanggaran-pelanggaran lainya.

Pada kendaraan bermotor semestinya ada catatan perawatan yang menjadi rujukan maintenance-nya. Juga bagaimana cara mengoperasionalkan di jalan raya. CPB bagi kendaraan bermotor akan dapat menjadi  tanda khusus saat pengesahan STNK atau perpanjangan STNK. CPB bagi kendaraan bermotor bisa menggunakan alat rekam data atau bar code / cheap atau penggunaan ANPR ( authomatic number plate recognation) yang dipasang pada tanda nomor kendaraan.

Selain itu juga bisa  dengan memasang obu (on board unit). Demikian halnya CPB dikenakan bagi para pemgemudi yg akan dikenakan pada sistem de merit/ de merit point system untuk perpanjangan SIM. Pemasangan aplikasi pencatatan pelanggaran atau perilaku pengemudi dpt dikaitkan dengan siatem-sistem elektronik yang saling terhubung satusama lainya.

Selain untuk keselamatan dan membangun budaya tertib berlalu lintas CPB juga berguna untk pengamanan. Tatkala kita melihat serangan teror di spanyol dan barcelona dengan menabrak para pejalan kaki. Korban cukup banyak dan menimbulkan keresahan bagi pejalan kaki atau pengguna jalan lainya. Dengan membangun CPB, setidaknya dapat sebagai upaya pencegahan atau upaya pendeteksian dan pengawasan para pengguna lalu lintas maupun kendaraanya. Dengan sistem CPB dapat digunaka  untuk pembatasan misalnya ERP, E parking, E toll, E parking, E 7samsat, de merit point system dan E tilang.

 

CPB menjadi bagian dari  pelayanan publik di bidang: administrasi, informasi, keamanan, keselamatan, hukum juga kemanusiaan. CPB se bagai aplikasi juga merupakan implementasi amanat UULLAJ  untuk mewujudkan dan memelihara Kamseltibcar lantas, meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan, membangun budaya tertib dan pelayanan prima yang ( cepat, tepat, akurat, Transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses).***

Leave a Reply