This post has already been read 6 times!

Ramallah, Monasnews — Keputusan pemerintah Guatemala yang mengikuti jejak Amerika Serikat, untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem dinilai Palestina sebagai kebijakan yang  “memalukan”, karena mengakui kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

“Ini adalah tindakan memalukan dan ilegal, yang sepenuhnya bertentangan dengan keinginan para pemimpin gereja di Yerusalem  dan melanggar resolusi Majelis Umum PBB yang mengecam langkah AS,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Palestina menanggapi keputusan Guatemala.

Palestina menilai,  keputusan Guatemala itu sebagai tindakan melawan dan memusuhi  hak-hak warga Palestina dan pelanggaran terhadap hukum internasional. “Negara Palestina akan bertindak dengan mitra regional dan internasional untuk menentang keputusan ilegal ini.”

Pemerintah Guatemala pada Minggu mengumumkan keputusan tersebut, setelah  setelah dua pertiga negara anggota PBB menyetujui sebuah mosi menolak keputusan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Guatemala termasuk di antara delapan negara yang bergabung dengan Amerika Serikat , yang memberikan suara untuk menentang resolusi tersebut pada Kamis lalu. Pengumuman keputusan Trump pada 6 Desember memicu kemarahan warga di seluruh Palestina dan dunia Muslim.

Konflik Palestina dengan Israel diawali dengan langkah negara Yahudi tersebut yang  menginvansi  bagian timur Yerusalem dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Israel kemudian mencaploknya, dan  tindakan itu sama sekali  tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Israel sendiri menganggap seluruh kota itu sebagai ibu kota tak terbagi mereka.  Palestina pun  menganggap Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan mereka. Sampai sekarang, tidak ada negara yang menempatkan kedutaannya di Yerusalem. Mereka menempatkannya di ibu kota komersial Israel, Tel Aviv. [AFP] 

Categories: GLOBAL