This post has already been read 3 times!

Roma, Monasnews — Misa Malam Natal yang disampaikan Paus Fransiskus, memberikan pemembelaan terhadap kaum  imigran. Paus  membandingkannya dengan nasib Maria dan Yusuf, yang tidak menemukan tempat tinggal di Bethlehem. Sejarah itu menurut Paus memberi pelajaran, bagaimana keimanan seharusnya mengajarkan orang untuk berbuat baik terhadap  orang-orang asing.

Paus Fransiskus merayakan Natal kelima sebagai pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma di dunia, memimpin sebuah misa kudus untuk sekitar 10.000 orang di Basalika Santo Petrus, sementara banyak dari pengikutnya mengikuti kebaktian di luar lapangan.

Keamanan tampak ditingkatkan, para peserta misa diperiksa saat mereka mendekati Lapangan Santo Petrus, bahkan sebelum melewati detektor logam untuk memasuki Basilika. Lapangan tersebut telah diamankan beberapa jam sebelumnya, sehingga prosedur keamanan bisa dilakukan.

Pembacaan Injil di Misa di gereja terbesar umat Kristiani tersebut menceritakan kisah Bibel tentang bagaimana Maria dan Yusuf harus melakukan perjalanan dari Nazaret ke Bethlehem untuk terdaftar dalam sebuah sensus yang diperintahkan Kaisar Romawi Kaisar Augustus.

“Begitu banyak jejak lain yang tersembunyi dalam jejak Yusuf dan Maria. Kami melihat jejak seluruh keluarga yang dipaksa pergi pada zaman kita sekarang. Kami melihat jejak jutaan orang yang tidak memilih untuk pergi, namun diusir dari tanah mereka, meninggalkan orang-orang mereka yang tersayang,” ujar Paus Fransiskus.

Bahkan para gembala yang menurut Alkitab pertama menyaksikan bayi Yesus adalah “orang-orang yang terpinggirkan” yang dianggap orang asing yang kotor dan bau, kata Paus.

“Mereka cenderung dicurigai itikadnya. Mereka adalah pria dan wanita untuk dijaga jaraknya, untuk ditakuti,” ujarnya. (Reuters)

Categories: GLOBAL