This post has already been read 4 times!

Pemerintah bertekad untuk terus melanjutkan upayanya dalam  membuka Kabupaten Asmat, Papua, dari kerterasingan dengan cara membangun berbagai infrastruktur di wilayah tersebut.

Penegasan itu disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, sembari menambahkan, disamping jalan, pemerintah juga membantu masyarakat dalam mengatasi masalah air bersih. Hal ini penting  mengingat ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di Kabupaten Asmat.

Basuki  menjelaskan,  Kementerian PUPR sebagai salah satu kementerian yang mengurusi pembangunan infrastruktur, bertekad untuk mengembangkan kabupaten itu menjadi lebih baik.

“Daerah ini merupakan daerah rawa sehingga air perlu diolah agar layak dikonsumsi. Sudah ada tampungan air berupa embung dengan kapasitas 1.000 m3 namun masih kurang sehingga akan kita buat sembilan embung lagi dengan kapasitas lebih besar. Selain itu, sumber air melalui sumur bor juga ditambah,” kata Menteri Basuki.

Kementerian PUPR telah memiliki matrik kegiatan pembangunan infrastruktur permukiman di Kabupaten Asmat baik jangka pendek maupun menengah mulai dari infrastruktur air bersih, sanitasi, jembatan, perbaikan jalan kampung, bedah rumah, dan pembangunan permukiman baru. Saat ini sudah ada satu sumur bor dan akan ditambah lima sumur bor kedalaman 150-200 meter dengan anggaran Rp6 miliar. Untuk alat bor sudah siap digunakan karena sudah selesai dirakit, bisa dikirim secara utuh.

Menteri Basuki mengatakan kunjungannya ke Asmat merupakan perintah Presiden Joko Widodo yang menanyakan tentang perkembangan terakhir di Asmat. Dikatakannya, Presiden Jokowi juga akan berkunjung ke Asmat bila pekerjaan sudah berjalan di lapangan.

Bupati Asmat Elisa Kambu mengatakan kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Asmat sudah tuntas dan menyampaikan terimakasih kepada Presiden Jokowi atas perhatian yang begitu besar, khususnya melalui penyediaan infrastruktur dasar seperti air, sanitasi, sampah, transportasi, dan rumah.

“Dengan ketersediaan infrastruktur yang lebih baik, ke depan diharapkan tidak akan terjadi lagi KLB di Asmat” katanya.

Dalam kesempatan bertemu masyarakat, Menteri Basuki mengajak masyarakat untuk bersama peduli sampah dengan tidak dibuang sembarangan yang mengotori pantai dan bawah rumah panggung mereka. Sampah yang dihasilkan dapat diolah dengan pola 3R (reduce, reuse, dan recycle) sehingga lingkungan menjadi lebih sehat. Layanan air minum perpipaan juga semakin dikembangkan.

Sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kota Agats, Kabupaten Asmat kapasitas 10 liter/detik yang sudah ada dan melayani 230 sambungan rumah pada tahun 2018 akan direhabilitasi agar lebih optimal. SPAM juga akan dibangun di Distrik Atsy dan Distrik Sawaerma dengan kapasitas lima liter per detik dan dialokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar serta SPAM Kota Agats dengan kapasitas 10 liter per detik dengan anggaran Rp5 miliar.

Ditambah pembangunan SPAM sebanyak 24 unit kapasitas masing-masing satu liter per detik dengan nilai Rp39,7 miliar melalui kegiatan Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Bukan hanya pemerintah yang peduli membangun infrastruktur di Asmat, tapi swasta seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga ikut membangun instalasi air minum untuk warga Asmat di Papua agar masyarakat setempat mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Instalasi sterilisasi air minum itu dibangun di area Masjid An Nur, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua dan resmi beroperasi.

Direktur Pendistribusian Zakat Nasional Baznas Mohd Nasir Tajang mengatakan instalasi sterilisasi air minum itu dibangun di area Masjid An Nur, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua dan resmi beroperasi, yang didanai Baznas dan beberapa donatur. Sebagai tahap awal, instalasi itu juga dibangun di RSUD Asmat yang diberikan untuk masyarakat itu akan dikembangkan dengan sistem pembayaran murah atau barter dengan sampah plastik kemasan air minum.

Kurangnya akses air bersih mengakibatkan banyaknya kasus penyakit seperti diare, kulit, dan sebagainya. Masalah air bersih itu juga memicu terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat beberapa waktu lalu. Selama ini, masyarakat harus membeli air mineral dalam kemasan untuk kebutuhan air bersih seperti untuk memasak air dengan kompor gas atau kompor minyak yang harganya relatif mahal.

Jembatan Gantung

Usai meninjau Kampung Kaye, Menteri Basuki kembali menyeberangi sungai ke lokasi pembangunan 114 unit rumah khusus yang telah dibangun sejak 2016 dengan biaya Rp19,9 miliar di Kampung Amanamkai dan Kampung Syuru, Distrik Agats sebanyak 114 unit.

Tahun 2018 akan kembali dibangun sebanyak 100 unit rumah khusus yang tersebar di empat kampung, yakni Kampung Priend Distrik Fayid (34 unit), Kampung Ass dan Kampung Atat Distrik Pulau Tiga (33 unit), serta Kampung Warkai Distrik Betsbamu (33 unit). Rumah yang tidak layak huni akan diperbaiki dengan program 1.000 rumah swadaya.

Salah satu penyebab penduduk enggan berpindah ke lokasi rumah khusus yang telah dibangun adalah belum adanya jembatan penghubung antar kampung yang terpisahkan sungai. Oleh karenanya, akan dibangun empat jembatan gantung dengan anggaran Rp46 miliar yakni di Kampung Baru Syuru Distrik Agats (72 meter), Kampung Yerfum, Distrik Der Koumor (84 meter), Kampung Hainam, Distrik Pantai Kasuari (120 meter), dan Sawaerma (150 meter).

Jalan panggung dari kayu yang sudah lapuk juga akan diperbaiki dengan jalan beton dengan teknologi pracetak sepanjang sekitar 15 km dengan lebar rata-rata 4 meter. Dibangunnya sejumlah infrastruktur di kabupaten itu diharapkan tidak ada masyarakat yang terisolasi, selain mereka bisa hidup layak dan sehat karena sudah tersedia air bersih sehingga kasus gizi buruk tidak ditemui lagi.

Categories: INFRASTRUKTUR