Penelitian dan Konteks Teoritik Penelitian Sastra

 

Aprinus Salam,
Pascasarjana FIB UGM, Yogyakarta

Abstrak

Tulisan ini mencoba menjelaskan kondisi peneliti sastra (di Indonesia) dan wacana teoretik yang mengondisikannya. Terdapat situasi yang menyebabkan peneliti sastra menjadi tukang teliti dalam aturan formal normatif daripada memposisikan penelitian sebagai suatu eksplorasi pemikiran atau gagasan. Teori-teori sastra mutakhir membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut bagi pengembangan pemikiran atau gagasan untuk kasus-kasus yang lebih spesifik sesuai dengan kondisi material sastra Indonesia. 

Pengantar

Kajian tentang karya sastra dan pengarang merupakan arus utama kajian sastra. Pengembanganteori dan metode penelitian diorientasikan untuk menjelaskan hal tersebut. Perhatian terhadap kondisi-kondisi peneliti dan hasil penelitian sastra, khususnya di Indonesia, belum cukup mendapat perhatian. Hal lain yang belumcukup mendapat perhatian adalah bagaimana situasi teori-teori sastra, ke mana arah perkembangan teori sastra, dan bagaimana teori-teori tersebut memposisikan peneliti sastra.

Dengan demikian, pertama, persoalan yang dibicarakan adalah mencoba mencermati bagaimana kondisi dan situasi peneliti sastra (di Indonesia). Kedua, bagaimana konteks teoretik yang berpengaruh terhadap hasil penelitiannya. Bagaimana suatu teori menjelaskan dan menganalisis objek material, yang kemudian, hal itu menggiring persoalan ke objek formalnya. Ketiga, teori tertentu membawa kita (peneliti) ke mana, apa implikasi dari penerapan berbagai teori tersebut.

Dalam melihat persoalan tersebut, hal yang akan dilakukan adalah mencoba menjelaskan kondisi peneliti dalam ranah penelitian sastra.  Pengertian ranah dengan “mengadopsi” cara Bourdieu (1977, 2010) dengan mempertimbangkan struktur ranahdan konteks teoretik para peneliti menempatkan posisinya dalam satu hierarki kuasa tertentu. Penelitian ini memperhitungkan apa yang dimaksud dengan habitus, trajektori, dan kekerasan simbolik yang dialami para peneliti. Dalam melihat hasil penelitian dan konteks teoretiknya, serta posisi subjek peneliti, saya “mengadopsi kritik kontemporer Zizek (1989, 1994, 1997), berkaitan dengan kekuatan tatanan simbolik kapitalisme sebagai ruang tempat berkiprahnya para peneliti.

 

Peneliti dan PenelitianStruktural

Perguruan tinggi yang memiliki fakultas sastra di Indonesia telah dimulai pada tahun 1950-an seperti di UGM, UI, dan beberapa universitas lain. Hingga tahun 1970-an, telah cukup banyak sarjana sastra diluluskan. Tidak semua lulusan menjadi dosen dan peneliti karena sebagian yang lain bekerja di luar keahliannya sebagai sarjana sastra. Hal ini disebabkan sempitnya lahan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian sastra. Keberadaan fakultas sastra tidak berkorelasi langsung dengan pentingnya kajian sastra sebagai ilmu. Keberadaan fakultas sastra ditempatkan dalam satu spektrum politik kebudayaan demi legitimasi negara, bukan soal substansi kajian sastra.

Dana dan kesempatanyang dialokasikan untuk penelitian sastra relatif kecil. Profesi peneliti sastra belum dianggap sebagai keahlian yang dibutuhkan atau menjanjikan secara ekonomi. Dalam struktur kuasa ekonomi dan pembangunan, masyarakat tidak membutuhkan sastra. Para sarjana dan peneliti sastra menjalankan rutinitasnya di kampus dan lembaga bahasa sebagai bagian dari birokrasi prosedural dalam tatanan struktur bernegara. Cukup banyak aturan yang dinisbahkan kepada para peneliti sehingga penelitian menjadi urusan administrasi. Mereka melakukan penelitian dalam paradigma struktural, sesuai dengan konteks teoretik yang berkembang pada waktu itu. Dalam konteks ini, para peneliti tidak mampu keluar dari kekerasan simbolik yang menimpanya.  Sekali lagi, struktur teknokrasi dan kuatnya rezim eksakta menyebabkan konsep “penelitian sastra” belum dipahami sebagai penelitian.

Trajektori penelititerlihat dengan masuknya sebagian besar para calon sarjana sastra Indonesia bukan sebagai pilihan pertama. Berdasarkan informasi, mereka yang masuk program studi sastra sebagian besar merupakan pilihan kedua atau ketiga. Kelak, hal iniberpengaruh terhadap keseriusan para sarjana sastra dalam mengkonsekrasi keahliannya. Modal peneliti (dalam perspektif Bourdieu), sangat minimalis sehingga dalam pertaruhan di arenanya, peneliti dalam posisi terdonimasi dan subordinatif.

Masa-masa transisi untuk perubahan posisi sarjana sastra (baca peneliti) dimulai pada akhir dekade 1980-an. Secara eksternal, lingkungan sosial dan teknologi membantu perkembangan penelitian sastra. Dalam kondisi yang serba terbatas, perguruan tinggi-perguruan tinggi mulai banyak melahirkan para sarjana sastra, dari sarjana satu, master, hingga doktor. Mereka sebagian besar bekerja menjadi dosen, di Badan, Balai, dan Kantor Bahasa, hingga peneliti-peneliti lepas (independen), dan sebagian yang lain menjadi sastrawan dan/atau penyair, atau menjadi wartawan.

Ada pergeseran kualitas pengertian dan paradigma penelitian sehingga banyak dari para sasrjana sastra atau peneliti tidak bisa disebut sebagai kritikus. Apalagi jika asumsi tentang kritikus berkaitan dengan “penilaian estetik” seperti yang pernah dilakukan H.B. Jassin. Penilaian dan cara kerja Jassin sulit dikategorikan sebagai pekerjaan akademik karena tubuh teori tulisan-tulisan Jassin tidak begitu tampak bangunannya. Pendekatan yang dipakai Jassin lebih sebagai catatan-catatan impresi yang tidak terbingkai dengan utuh, baik pada tataran asumsi maupun tataran teoretik. Dalam posisi yang berbeda,  A. Teeuw (1955, 1958, 1967, 1979, 1983),merupakan tokoh peneliti sastra yang terbingkai secara akademik. Hal yang ingin dikatakan adalah bahwa pada masa kedua tokoh itu ilmu dan teori sastra masih dalam kuasa dan paradigma struktural.

Rangkaian rezim struktural itu berjalan secara simultan hingga tahun 2000-an. Selain karya Jassin (1968, 1985/1952, 1985a/1954, 1985b/1962, 1985c/1967), dan Teeuw (1955, 1958, 1967, 1979, 1983), ada beberapa buku lain yang dipakai oleh para peneliti sastra, yakni karya Stanton (1953), Usman (1957), B. Siregar (1964), Junus (1974, 1981, 1983), Rosidi (1964, 1969, 1973), Nursinah (1969), Nurgiyantoro (1995), Sayuti (2000). Penelitian-penelitian sastra dalam orientasi struktural (dan semiotik) sebagian masih mengandalkan buku-buku tersebut. Berdasarkan perspektif teoretis, tulisan-tulisan di atas dapat dibagi ke dalam tiga kecenderungan. Pertama, walaupun tidak dipaparkan secara eksplisit, yaitu tulisan-tulisan dengan mencampurkan hal-hal impresif dan teori struktural seperti tampak pada tulisan Jassin (1968, 1985, 1985a, 1985c, 1985c), Rosidi (1984, 1969), Usman (1957), Eneste (1982), Nursinah (1969), dan B. Siregar (1964). Kedua, tulisan yang berangkat dari kerangka teori struktural seperti tampak pada tulisan Teeuw (awal) (1955, 1958, 1967), Pradopo (1967, 1988, 1995, 2002), Nurgiyantoro (1995), Sayuti (2000), dan Junus (1960, 1974).

Konteks teoretik struktural mencoba menjelaskan ketertataan internal karya sastra, sebagai implikasi pengetahuan modern yang ingin menguasai dunia, tetapi sekaligus sebagai bentuk ketaklukan terhadap struktur. Dominasi struktur akan menjelaskan bahwa hal-hal yang tidak koheren terhadap struktur dianggap kelainan sehingga dikeluarkan, atau dianggap sebagai degresi yang mengganggu. Dalam beberapa hal, pendekatan ini berimplikasi ideologis dan dalam rentang waktu yang cukup lama memberikan pengaruh terhadap disiplin ilmu sastra pada penelitinya. Akan tetapi, kelak terbukti akan banyak perlawanan terhadap pendekatan struktural, di samping karena mengabaikan aspek historis, pendekatan ini terlalu bernafsu mentotalisasi dunia.

Dalam rentang waktu yang berjalan bersamaan, terdapat satu situasi ketika teori semiotik, terutama dari Roland Barthes, berhasil mencuri perhatian. Berbasis teori linguistik Saussure, Barthes mengembangkan konsep-konsep langue/parole, signifier/signified, sintagmatik/paradigmatik, denotasi/konotasi (Barthes, 1973). Barthes juga memperluas pengertian mitos sehingga teori ini kelak menguak lebih lanjut bagaimana kehidupan yang tidak natural seolah berjalan natural (Barthes, 1976). Penekanan pada parole, relasi pemaknaan terjauh antara penanda dan petanda, serta kuatnya peran konotasi kelak membuka pintu-pintu pemahaman lebih jauh bagi teori-teori postruktural. Itulah sebabnya, bersama Levi-Strauss, Barthes menempatkan posisi transisi antara paradigma struktura; dan postruktural.

Dalam koridor teoretik tersebut, dalam praktiknya, banyak peneliti sastra yang memposisikan dirinya hanya menjadi tukang teliti struktural. Sejauh ini, kita hanya memanfaatkan atau memakai teori yang sudah jadi itu. Teori yang sudah jadi itu tinggal dipakai untuk meneliti sastra. Itulah sebabnya, dalam bahasa sarkas yang lebih populer, kita ini peneliti tukang. Sebagai tukang teliti (peneliti sastra), kadang hanya menjadi tukang yang hanya memanfaatkan barang yang sudah jadi. Hal itu dapat dilihat dari berbagai penelitian, sebagai misal; “analisis strukturaldalam novel A”, “tinjauan puisi B suatu analisis struktural”. Tidak mengherankan jika banyak hasil penelitian tukang teliti ini menjadi semacam reproduksi tertentu yang bersifat latah terhadap penelitian yang sudah ada. Penelitian tukang teliti ini tidak memberikan satu ruang baru atau penemuan baru yang spesifik.

Tuntutan administrasi untuk menjadikan hasil penelitian sebagai syarat administrasi agar tetap menjadi peneliti atau dosen jauh lebih penting daripada hasil penelitian itu sendiri. Kooptasi struktural(bernegara) untuk tetap harus meneliti menjerumuskan peneliti menjadi asal meneliti. Bahkan banyak syarat penelitian lebih ditentukan oleh format penelitian daripada substansi penelitian. Jadi, banyak hasil penelitian seolah seperti penelitian karena syarat formal dan administrasinya telah memenuhi syarat, tetapi dari segi substansi sebetulnya penelitian tersebut belum akademis dan ilmiah, tidak terdapat pergolakan dan dinamika pemikiran di dalamnya.

Kalau boleh dikatakan krisis, bukan krisis kritikus atau peneliti sastra. Kita tidak mengalami satu situasi dan kondisi untuk menjadi pemikir sastra dalam pengertian luas. Kita ini dituntut menjadi peneliti, dan akan terus meneliti, dan dalam ruang itu pemikir dan pemikiran tidak diakui sebagai bagian penting dalam proses pengembangan teori dan metodologi penelitian sastra. Itulah sebabnya, sejauh yang bisa kita lakukan, kita ini bisanya meneliti. Kita perlu bersusah hati karena dari Indonesia belum melahirkan para pemikir yang mampu melahirkan teori, dan teori itu bisa dipakai untuk meneliti sastra.

Teori-teori sastra tidak berkembang ke arah kriteria-kriteria penilaian yang dibakukan, dan mungkin juga tidak ada gunanya, jika arah tersebut dipertahankan. Dalam berbagai seleksi karya sastra yang buruk dan bermutu, banyak proses-proses sejarah dan sosiologis yang mampu menyeleksi keberadaan karya sastra itu sendiri. Novel Sitti Nurbaya mungkin bagus dan bermutu pada zamannya. Akan tetapi, kita sulit mengatakan bahwa novel itu masih dianggap  memenuhi selera pembaca generasi sekarang. Perubahan selera dan ekspektasi pembaca sastra ditentukan tema zamannya. Berbagai persoalan konvensi dan teknis menulis sastra secara terus-menerus telah berkembang.

Di samping hal yang telah disinggung di atas, keterbatasan dan fasilitasi data (karya sastra), dokumentasi-dokumentasi, atau pun jangkauan terhadap perkembangan buku teori masih belum mendapatkan prioritas penting. Untuk dokumentasi karya sastra, Pusat Dokumentasi/Perpustakaan HB Jassin telah bekerja keras. Akan tetapi, selain itu, tidak ada perpustakaan sastra yang dapat diandalkan. Peneliti sastra belum memiliki gairah dan semangat yang tinggi untuk “memperbarui” pemahaman teoretik untuk mengkaji sastra. Itulah sebabnya, masih banyak dijumpai hasil penelitian yang tidak lebih merupakan sesuatu yang bersifat duplikatif atau reproduktif, bahkan normatif.

Selain itu, banyak peneliti yang melakukan penelitian atau menulis paper sebagai bagian dalam rangka tertentu, sebagai misal, untuk mengikuti seminar atau simposium yang telah ditentukan temanya. Tema seminar atau simposium biasanya juga dalam rangka (teringat Umar Kayam). Dalam rangka tersebut pada umumnya untuk “mendukung” program negara. Tidak heran kemudian banyak seminar dan hasil-hasil penelitian dengan judul; sastra dan pendidikan karakter, sastra dan multikulturalime, sastra dan pancasila, sastra dan lingkungan, dan sebagainya. Saat ini, tema-tema yang berkembang sastra dan revolusi mental, sastra dan keragaman/kebhinekaan, sastra maritim, ekokritisme dalam sastra, dan sebagainya. Hal ini juga merupakan salah satu bentuk kekerasan simbolik yang berlapis-lapis.

Sebagai risikonya, sebagai kasus, paling tidak ada dua hal yang dilakukan dalam meneliti sastra. Pertama, mencoba mengembangkan masalah, misalnya kasus sastra dan kebhinekaan, mencari-cari bukti apakah sastra telah mengandung unsur kebhinekaan atau tidak. Dapat diduga bahwa karya sastra yang diteliti tentulah karya sastra yang mendukung atau mengandung unsur kebhinekaan. Kedua, mencoba menjelaskan apakah (karya) sastra telah berperan terhadap penghargaan keragaman dan kebhinekaan. Kita akan tahu bahwa penelitian seperti ini bersifat normatif bahkan sebagian penelitian tidak ilmiah. Implikasi fenomena dalam rangka yang normatif tersebut, pertama, penelitian akan menjadi bagian dari prosedur umum administrasi dan rutinitas. Tidak ditemukan eksplorasi teoretis ilmu sastra. Kedua, masalah cenderung dicari-cari, seolah-olah memang ada masalah, dan yang ditemukan adalah masalah dalam rangka tersebut. Ketiga, kajian seperti itu bisa diduga tidak lebih sebagai upaya pinjam-pasang, pinjam “sesuatu” dari tempat lain, di-pasang-pasang-kan hingga kelihatan pantas untuk kajian sastra.

Belakangan saya mencermati bahwa penelitian-penelitian terhadap sastra lisan atau cerita rakyat memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan. Hal itu juga disebabkan dorongan pemerintah, terkait dengan strategi kebudayaan negara, untuk memperkuat basis dan nilai-nilai lokal. Persoalannya, banyak penelitian terjebak dalam suatu penelitian yang normatif sehingga hasil penelitian sudah dapat diduga dan tidak memperlihatkan silogisme akademik yang penting, baik dalam aspek teoretiknya juga dalam strategi menganalisis sastra lisan. Kajian tentang sastra lisan hanya menjadi ajang legitimasi bahwa dulu lokal-lokal di Indonesia memiliki nilai-nilai kehidupan yang baik dan tertata. Di balik riset cerita lisan yang normatif tersebut menyimpan kegelisahan ideologis dan bahkan semacam fantasi kerinduan terhadap dunia/kehidupan yang sebagian besar telah tergerus dalam dunia modern yang kapitalistik.

Terdapat kaitan-kaitan kajian struktur sastra dan struktur modernitas. Pada masa itu, para akademisi belum menyerap teori-teori baru yang dikembangkan dalam paradigma posmarxis dan postruktural. Negara Indonesia yang sedang memasuki modernitas, membutuhkan monopoli tafsir atas kebenaran dan meminimalkan gangguan adanya perbedaan-perbedaan tafsir. Dalam kontes tersebut, dapat dikatakan bahwa kajian struktural dalam karya sastra berjalan paralel dengan struktur monopoli kebenaran modernitas yang diusung negara. Kestabilan makna merupakan prioritas penting pada masa-masa tersebut. Bourdieu dan Foucault, dengan cara yang berbeda, juga mempersoalkan dominasi simbolik, kuasa rezim tafsir, agar tafsiran hanya sesuai dengan skema penguasa.

Namun, beberapa tahun belakangan, perguruan tinggi telah melahirkan cukup banyak skripsi, terutama tesis dan disertasi yang memanfaatkan teori-teori mutakhir (sebagai objek formal). Teori-teori mutakhir dan kontemporer tersebut misalnya teori ruang dan poskolonial, teori-teori ideologi, wacana, dan postrukturalisme dalam berbagai variannya, teori produksi kultural Bourdieu, teori-teori feminisme dan maskulinisme yang beragam (hingga posfeminisme dan posmaskulinisme), teori kritik sastra kontemporer dari Slavoj Zizek, dan pengembangan mutakhir teori-teori posmodernisme pun telah tersedia di kampus. Hampir sebagian besar hasil penelitian itu tersimpan di perpustakaan kampus dan sebagian besar hasil penelitian itu telah di-on line-kan.

 

Geliat Sosiologis: Tranformasi Struktural

Seperti telah disinggung, masa transisi situasi penelitian sastra (di Indonesia)terjadi pada tahun 1980-an akhir. Kajian-kajian sosiologis-struktural mulai bergeliat. Memang, teori sosiologi sastra bukan hal baru. Pada tahun 1956,Rene Wallek dan Austin Warren telah membuka peluang itu, tetapi buku mereka mulai banyak dipakai pada tahun 1970-an akhir dan terutama pada tahun 1980-an. Salah satu buku sosiologi sastra yang juga banyak dipakai pada waktu itu adalah karya Watt (1968) dan Laurenson  (1972), membuka peluang yang lebih luas sehingga memungkinkan peneliti sastra mengkaji aspek sastra dari segi sosiologis.

Berikut beberapa karya yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain Sumardjo (1979, 1981, 1983), Soemargono (1983), Toda (1984), Eneste (1982), Watson (1972), Damono (1983, 1999), Sastrowardoyo (1980, 1989), Soekito (1984), Haridas (Aveling) (1986), Heryanto (1985, 1988), Kayam (1988),Foulcher (1988, 1991/1980), Mohamad (1993), Junus[1] (1986), Hellwig (1994), Faruk (1994),  Darma (1995), dan sebagainya.

Saya akan membahas secara sekilas. Tulisan Sumardjo, pada masanya, cukup banyak dipakai. Akan tetapi, kadar akademik tulisan Sumardjo tidak terlalu tampak. Sebagian besarnya isi bukunya lebih sebagai kumpulan tulisan atau catatan-catatan lepas. Buku-buku Toda, Eneste, Soemargono, Watson, Damono, Sastrowardoyo, Soekito, Haridas (Aveling), Kayam, Foulcher, Mohamad, Hellwig, Darma, dengan interes dan titik artikulasi yang berbeda, telah memperlihatkan suatu model kajian sosiologis. Tulisan Heryanto (1988) merupakan makalah yang penting justru karena gugatan sosiologisnya terhadap kajian sosiologi sastra yang mainstream. Tulisan atas nama Heryanto (1988) merupakan kumpulan tulisan tentang sastra kontekstual. Pemikiran sastra kontekstual, di kemudian hari, akan mendapatkan sambutan dalam berbagai pemikiran yang lebih kontemporer. Junus, walaupun bukunya berjudul Sosiologi Sastra Persoalan Teori dan Metode, tetapi isinya lebih sebagai kajian terhadap karya. Hanya satu bab yang mencoba meringkas teori sosiologi sastra yang populer pada waktu Junus menulis. Faruk secara khusus membangun tulisan sosiologi sastra yang bersifat teoretik dalam tradisi Marxis, dan buku itu terutama memperkenalkan teori L. Goldmann.

Buku-buku dengan orientasi sosiologi sastra terbagi dalam dua pendekatan, yakni tradisi non-Marxis dan Marxis. Berbeda dengan Watt (1968), buku Laurenson (1972), walaupun tidak dimaksudkan sebagai pendekatan Marxis, bagaimanapun dalam bangunan teoretiknya tidak keluar dari struktur, sesuatu yang menjadi pegangan pendekatan Marxis. Tampaknya, di kemudian hari teori Marx mendapat eksplorasi lebih jauh. Setelah Marx, diformulasikan lebih lanjut oleh Gramsci (1971), Althusser (1984), Lukacs (1978), Adorno (1973), Goldmann (1977, 1981), dan Eagleton (1990, 1998/1976, ). Dari Gramsci kita belajar banyak tentang ideologi dominan dan hegemonik, peran intelektual, pemikiran, kebudayaan sebagai situs perjuangan, dan beberapa hal lain.

Secara tidak langsung, Gramsci mencoba memperlihatkan kedudukan karya sastra dan dalam posisi itu karya sastramengkontestasikan dan menegosiasikan ideologi-ideologi. Sementara itu, Althusser menjadi penting dalam rangka membicarakan ISA da RSA dan pengaruhnya terhadap keberadaan sastra dan pengarang. Lukacs memperkenalkan kesadaran parsial yang mencoba memodifikasi teori Marx. Adorno terkenal dengan teori reifikasinya. Hal yang menarik untuk dicatat dari kajian-kajian sosiologis yang ideologis tersebut adalah membangun pemetaan terhadap konflik-konflik, kontestasi, pertarungan, yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat/bernegara. Akan tetapi, kajian ideologis tidak berpretensi untuk menyelesaikan kontestasi dan memang bukan itu maksud dari kajian-kajian ideologis.

Saya ingin memberi perhatian pada Eagleton (1990, 1998/1976) yang dalam karya-karyanya memperkenalkan kritik materialistik terhadap teks sastra. Hal utama dari kritik sastra Eagleton adalah ideologi tidak semata berpretensi kontestasi dan negosiasi yang dibayangkan Gramsci. Ideologi bisa menjadi suatu mekanisme seleksi estetik ketika Eagleton menjelaskan ideologi estetik dan ideologi teks. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ideologi estetik bagaimana pengarang sastra, sebagai subjek, berdamai dengan perasaan yang halus terhadap objek estetik yang telah disepakati bahwa objek estetik itu indah secara universal (universal taste). Sementara itu, yang dimaksud dengan ideologi teks, bagaimana subjek perlu bercengkrama dan menyesuaikan diri dengan kekekuatan konvensi, bahasa, dan berbagai kenyataan historis (terutama bahasa), sebelum pengarang mengeksekusi tulisannya.

Dalam dekade bersamaan, teori-teori feminisme bergeliat dan merebut perhatian. Dominasi budaya partriarki telah membangun ketidakseimbangan struktur kehidupan berbasis gender (tidak semata persoalan kelas). Walaupun pemikiran ini telah dimulai pada tahun 1930-an di Amerika, di Indonesia dampaknya baru dirasakan pada tahun 1970-an, khususnya pada tahun 1980-an. Tuntutan terhadap kesamaan dan kesetaraan hak-hak dalam arti yang luas berpengaruh bukan saja terhadap kajian sastra, tetapi dalam pratik kehidupan sehari-hari.

Feminisme telah memperlihatkan perkembangan yang menarik. Beberapa pemikirnya, seperti Simon de Beauvoir, Butler, Wolf, memberikan kontribusi besar bagi pengelupasan struktur kuasa dan kekerasan simbolik budaya patriarki. Kajian feminisme berhasil menjadi arus utama pemikiran sosial dan sastra, ikut berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat Indonesia terhadap kedudukan, peran, dan fungsi hubungan-hubungan gender. Hal yang signifikan dalam cara pandang tentang relasi dan peran gender adalah bagaimanapun identitas-identitas dan nilai-nilai sosial yang dikenakan pada laki-laki dan perempuan adalah konstruksi sosial. Sebagai konstruksi sosial, identitas dan nilai sosial gender bukan sesuatu yang kodrati. Teori feminisme sebagai suatu pemikiran, yang berpengaruh terhadap kajian sastra, ikut membantu perubahan sosial di Indonesia.

Namun, teori feminisme, yang juga beragam dan bermazhab-mazhab itu meninggalkan persoalan berkaitan dengan konstruksi sosial baru yang dimungkinkan ketika feminisme menjadi praksis sosial. Terutama feminisme radikal seolah membuka peluang terhadap “pelanggaran-pelanggaran” yang sebelumnya dianggap kodrati. Tentu, berbagai pelanggaran terhadap sesuatu yang dianggap suci dan kodrati tersebut bukan semata tanggung jawab pemikiran feminisme radikal. Persoalan lain yang lebih prinsip terkait masalah ontologi dan epistemologi feminisme (gelombang pertama dan kedua). Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut pada bagian berikut, terutama terkait dengan pemikiran feminisme posmodern, lebih khusus lagi posfeminisme.

Salah satu teoretikus dan pemikir sosial yang teorinya dapat diadopsi untuk kajian sastra adalah Pierre Bourdieu. Berdasarkan teori produksi kultural Bourdieu (1977, 2010), kita mendapatkan cara meneliti dan mengkaji peristiwa kesusastraan berdasarkan konsep-konsep yang mempertemukan determininasi bolak-balik dari struktur dan agen (subjek). Jika ilmu-ilmu sosial sebelumnya terbelah dalam paradigma sepihak, yakni berdasarkan struktur atau agen (manusia), maka Bourdieu mempertimbangkan kedua hal tersebut sebagai dua hal yang berkorelasi secara dialektis. Berdasarkan teori Bourdieu, peneliti akan secara lebih leluasa mempersoalkan keberhasilan atau kegagalan pengarang melakukan berbagai strategi dalam menembus arena sastra spesifik. Bourdieu mempertimbangkan kesulitan pengarang mengatasi kekerasan simbolik, mulai dari habitus, dalam arena yang berstruktur hierarkis, dan dalam memperebutkan modal sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik.

Elaborasi berbagai pertemuan teoretik melahirkan teori-teori baru, apa yang kemudian disebut dengan atribusi pos (post). Pengertian pos menimbulkan berbagai perdebatan, apakah terpisah dari era sebelumnya atau sebagai sambungan dengan performa baru. Saya termasuk yang berdiri di antara keduanya dengan mempertimbangkan pendapat Habermas di satu sisi, dan pendapat-pendapat Derrida dan Foucault di sisi lain. Hal yang dimaksud dengan pos meliputi postrukturalisme, posmodernisme, poskolonialisme, posfeminisme, merupakan satu konfigurasi baru yang tidak sepenuhnya terpisah dengan basis dasar konfigurasi yang diperbarui, walaupun terdapat pula di bagian tertentu yang lain telah terpisah.

 

Gelombang “Pos-Pos”: Terbukanya Kode-Kode

Pergeseran terpenting dari era struktural ke era postruktural adalah dari stabilitas makna ke instabilitas makna. Teori yang dikembangkan oleh para pemikir postrukturalis membangun kelenturan pemaknaan, bisa di mana saja dan dari mana saja, tidak terikat oleh struktur. Hal tersebut yang biasa disebut sebagai pedekatan diskursif. Tulisan ini tidak masuk secara detail menjelaskan perbedaan antara Loytard, Foucault, dan Derrida, misalnya. Akan tetapi, para pemikir tersebut telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan teori lainnya seperti posmodernisme, poskolonialisme, dan posfeminisme. Tidak bisa dikatakan secara persis kapan gelombang “pos-pos” tersebut mulai menjadi bagian penting bagi kajian-kajian sastra di Indonesia. Akan tetapi, kalau boleh diduga tampaknya telah dimulai pada tahun 1990-an. Bahkan Heryanto (1996) mengatakan mulai merebak pada tahun 1993.

Dengan mempertimbangkan pemikiran Derrida (1977, dan juga berdasarkan Norris, 1982) dan Foucault (1977, 1987), baik dari segi dekonstruksi makna yang tak harus selesai maupun dari segi kuasa bahasa (wacana) yang hadir dari mana saja, pemikiran postrukturalis berpengaruh dan menjadi landasan untuk keluar dari determinisme struktur dan/atau konstruksi dominan. Para pemikir postrukturalis telah membongkar tatatan ontologis dan epistemologis yang selama ini menjadi pegangan struktur yang terlanjur dominan. Hal yang ingin saya garisbawahi dari pemikiran postrukturalis ini adalah dibukanya kode-kode pemakanaan dan penafsiran (maupun dalam rangka membuka kode-kode kooptasi kuasa dominan) sehingga interpretasi dan analisis dapat bergerak secara leluasa dari mana saja dan dalam posisi apa saja.

Hal tersebut membuka peluang para teoretikus lain, untuk kemudian mempersoalkan teori-teori modernisme, kolonialisme, feminisme, sehingga berkembanglah kemudian apa yang disebut posmodernisme, poskolonialisme, dan posfeminisme. (Saya hanya memberi perhatian pada isu-isu yang paling umum). Seperti dapat dilihat pada karya-karya besar Said (orientalisme dan poskolonialisme), ataupun Bourdieu, maka pemikiran postrukturalisme sangat berpengaruh dalam karya-karya mereka. Said kemudian berpengaruh terhadap pemikiran poskolonialisme seperti Spivak dan Bhabha ataupun para pemikir posfeminisme.

Teori poskolonial telah berhasil membantu kita untuk melihat kerancuan nasionalisme tokoh-tokoh (pribumi) dalam ruang liminal. Motif-motif mimicry, mockery, uncany, dan sebagainya memberi informasi kepada kita apa yang terjadi di balik prilaku meniru, mentertawakan, dan hal-hal lain yang tak terkatakan terkait dengan visi pengarang dalam menulis karya sastra (Bhabha, 1994). Homi K. Bhaba memberi pemahaman kepada kita bahwa bagaimana pun selalu ada resistensi terhadap hegemoni Barat. Ketika pribumi seolah meniru, tetapi tidak meniru sama sekali, selalu ada celah perlawanan-perlawanan di dalamnya dalam berbagai bentuknya. Resistensi itu berbeda-beda tergantung lokasi kultural tempat sastra itu hadir.

Bhabha mempersoalkan ruang liminalnya Said dan Fanon, yakni ketika Said dan Fanon menempatkan ruang tersebut sebagai sesuatu yang bersifat oposisi biner. Bagi Bhabha dalam ruang tersebut terdapat berbagai kemungkinan negosiasi dan hibriditas. Dalam kasus hibriditas, hal tersebut mendapat perhatian lebih lanjut oleh Anjali Prabhu (2007), yang didefinisikan sebagai pertukaran atau perlintasan budaya. Pada masa kolonial, hibriditas didasarkan pada ras yang lebih dominan, yakni pihak kolonial. Dalam perkembangan berikutnya menjadi masalah terkait dengan persoalan hukum, kebijakan, dan politik yang berfungsi mendukung kepentingan kolonial dalam mengatur koloni. Persoalan itu menjadi lebih kompleks pada masa pascakolonial. Prabhu kemudian membangun konsep (dan/atau teori) yang dijelaskannya secara rinci dalam pengertian-pengertian diaspora dan kreol.

Dalam ruang teori feminis, feminisme yang beroposisi gender tersebut direvisi bukan saja oleh para feminis posmodern, tetapi juga oleh para feminis posfeminis. Feminis posmodern, dengan pemuka Helen Cixus, Luce Iragaray, dan Julia Kristeva secara umum sepakat untuk mengembangkan wacana keperempuannya berbasis kefemininannya, tanpa harus mempertimbangkan oposisi gender. Dalam hal ini, posfeminisme terlihat lebih moderat, yakni untuk mengembangkan wacana keperempuanan, memang tidak perlu berbasis gender. Akan tetapi, penerimaan perbedaan konteks budaya keperempuanan itu, dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal, ras, usia, struktur politik, ekonomi, dan sosial yang dominan, menyebabkan perbedaan-perbedaan kefemininan itu sendiri (lihat Brooks, 2011, dan Tong, 2008).

Saya hanya mengambil dua kasus, bagaimana teori poskolonial dan posfeminisme membuka kode (tafsiran berbeda) dibandingkan dengan tafsir dominan pada masa sebelumnya. Misalnya, posisi Datuk Maringgih dalam Siti Nurbaya (Rusli, 1999/1922) dan kasus Laila dalam Saman (Utami, 1999). Datuk Maringgih sebagai antagonis dianggap orang tua yang licik dan tidak tahu diri karena masih menginginkan Nurbaya untuk dijadikan istri. Terlepas dari niat dan karakter, posisi Maringgih melawan Belanda dianggap lebih nasionalis dibanding Syamsul Bahri. Sebaliknya, perlu dikaji lebih jauh rezim diskursif seperti apa yang menyebabkan Bahri mengambil keputusan tersebut. Kesediaan Nurbaya menjadi istri Maringgih perlu diperiksa ulang apakah karena pilihan yang terpaksa atau sebagai strategi.

Demikian pula halnya, ketika Laila berkenan berhubungan seks dengan Sihar, apakah Laila dalam posisi karena ingin melawan norma rezim patriarki atau karena dalam posisi sebagai perempuan yang berhak melepaskan berahinya kepada seorang lelaki. Persoalannya, siapakah Laila, apakah dia representasi wanita lokal tertentu di Indonesia, atau apakah Laila dalam posisi sebagai wanita modern kelas menengah. Posisi-posisi yang ambivalen, kontradiktif, bahkan paradoks di sisi lain, telah membuka wilayah tafsiran baru yang pada masa-masa sebelumnya belum dimungkinkan.

Belakangan yang juga mulai mengambil peranan penting bagi pengembangan teori sastra adalah teori kritik kontemporer Zizek. Berlatar teori-teori Hegel, Marx, dan Lacan, Zizek mengembangkan formula-formula yang dapat diterapkan untuk mengkaji sastra khususnya dan tatanan simbolik masyarakat kapitalisme pada umumnya. Salah satu hal yang perlu dicatat sehubungan teori Zizek adalah konsepnya tentang subjek dan fantasi ideologis. Seperti dikatakan Zizek, subjek terkondisi oleh tiga hal, yakni sesuatu yang nyata (the Real), yang simbolik (the Symbolic), dan yang imajiner (the Imaginary). Yang nyata adalah sesuatu yang kita ketahui, tetapi sekaligus kita selalu menghindarinya untuk seolah-olah tidak tahu. Bukan saja karena kita sulit mencapainya, tetapi jika kita tahu yang real justru akan menghancurkan tatanan simbolik. Sementara itu, tatanan simbolik adalah suatu hal yang subjek hidup di dalamnya dan sekaligus mengkonstruksi subjek. Hal imajiner adalah ruang subjek membaca atau mengindentifikasi dirinya. Dalam ruang imajiner inilah biasaya fantasi ideologis dapat diketahui, misalnya dengan mengkaji karya sastra.

Sisi lain dari teori Zizek, dan ini yang membedakan teorinya dengan warisan Marx, bahwa segala hal tindakan yang dilakukan subjek bukan karena tidak mengetahui, tetapi subjek mengetahuinya. Ini yang disebut Zizek sebagai kesadaran sinis, subjek mengetahui apa yang dilakukannya sebagai hal “tidak sesuai dengan yang real”, tetapi subjek terus melakukannya. Dalam warisan Marx, subjek melakukan tindakan karena subjek tidak mengetahuinya, suatu hal yang biasa disebut sebagai kesadaran palsu.

Berbagai pembongkaran dan penelanjangan itu telah membawa kita paling tidak pada dua pemahaman. Pertama, kita menjadi paham bahwa cukup banyak penelitian yang membuktikan ada ketidakleluasaan untuk temuan-temuan penting yang berkaitan dengan hal-hal penilaian mutu karya sastra. Memang, belakang ini, dan ini yang sebagian dituntut oleh sastrawan dan penyair, bagaimana mereka tahu bahwa karya sastra mereka bermutu atau tidak. Karya sastra yang bermutu akan memberi peluang kepada para peneliti dengan membongkar (mengkritik) secara serius dan dalam, demikian sebaliknya terhadap karya yang tidak bermutu. Namun, ujung pembongkaran (pengkritikan) tersebut tergantung bagaimana peneliti memiliki kebebasan berpikir dan selalu menyegarkan pemahaman teoretiknya dalam mengkaji sastra.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kita membutuhkan pemikir-pemikir sastra, dan dalam pengertian yang luas, pemikir budaya, untuk terus-menerus berpikir dan memikirkan bagaimana sastra bisa menjadi salah satu alternatif penting agar kita tidak terjebak dalam dunia modern yang kapitalis yang secara teoretik dapat dikatakan tidak akan membawa bangsa Indonesia ke suatu masa yang penuh dengan keadilan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan. Tentu akan terjadi berbagai kontradiksi atau bahkan polemik yang berkepanjangan, dan itu telah terjadi. Bagaimana seharusnya bukan hanya karya sastra, tetapi lebih dari itu adalah suara para pemikir dan peneliti sastra dalam memberikan sumbangan terhadap mutubernegara dan berbangsa.

Tentu begitu banyak hal yang perlu diwaspadai. Kelatahan dan kooptasi teori-teori yang selama ini, yang hanya tinggal kita pakai, dan kemudian ditulis secara “praktis” dan “pragmatis”, dalam berbagai paper dan buku (atas nama hasil penelitian), bukan hal mustahil justru bagian dari strategi dan rangkaian bagaimana kapitalisme bekerja. Seperti telah disinggung, kita ini sekarang hidup dalam satu konstruksi tatanan simbolisasi dan nilai-nilai kapitalisme. Berpikir untuk melawan kapitalisme itu sendiri telah terakomodasi oleh tatanan simbolik kapitalisme. Ini yang kemudian mengarah pada terjadinya kapitalisme populis.

Kapitalisme populis adalah suatu kapitalisme kultural yang, pada tataran konsep dan aksi/tindakan, menjadi seolah-olah sebagai bentuk “perlawanan” terhadap kapitalisme, tetapi justru konstruksi terdalamnya adalah ideologi kapitalis dalam bentuknya yang lebih murni. Sebagai contoh, kita merayakan, menyeminarkan, dan menulis apa yang kita sebut sebagai ekokritik. Akan tetapi, ekokritik itu mengalami paradoks ketika kita terus-menerus menggunakan kertas atau ke mana-mana naik kendaraan bermesin, dan sebagainya. Jika kita tidak berbicara tentang ekokritik, kita dianggap ketinggalan zaman, tidak memiliki empati terhadap merosotnya kualitas lingkungan. Hal yang lebih mencemaskan adalah ekokritik tidak lebih sebagai gaya hidup dengan car free day-nya, untuk beberapa jam dan setelah itu kita bebas berkendaraan mesin. Yang paling parah adalah ketika ekokritik menjadi isu yang dikomoditaskan.

Akan tetapi, jika kondisi melawan kapitalisme itu sulit dilakukan, maka bagaimana jika para pemikir berusaha keluar dari kapitalisme. Kajian dan pemikiran yang memiliki kemandirian dan otentisitas tentu saja dibutukan. Persoalannya, siapa yang bisa dan berpeluang menjadi manusia otentik, untuk melahirkan pemikiran yang mandiri dan otentik, di tengah arus ketika tatanan simbolik kapitalisme dan arus modal (dalam pengertian Bourdieu) telah merasuk ke dalam berbagai sendi kehidupan kita.

Tampaknya teori-teori sastra menempatkan karya sastra sebagai bukan kritik sastra itu sendiri yang penting, tetapi yang lebih utama membawa kita terhadap mengkritik dan mengkritisi kehidupan seperti apa yang kita jalani. Zizek sudah memberi jalan dalam medan dan sekaligus mempertentangkan The Real dan The Other. Walaupun tidak secara eksplisit, dalam pamahaman yang sedikit berbeda Zizek memberi sinyal apa yang dia sebut sebagai ilusi transendental. Sejalan dengan itu, kritik sastra mengarah pada pembongkaran apakah karya sastra bagian dari arus utama kuasa konstruksi dan struktur yang lebih besar, atau karya sastra dalam posisi di luar itu.

Tulisan ini hanya sampai pada pertanyaan itu, untuk kemudian perlu dibuka satu diskusi lebih lanjut, apakah itu berkaitan dengan strategi dan pilihan lebih lanjut bagaimana sastra, dalam pemikirannya, memberikan alternatif terhadap ruang-ruang baru pemikiran. Ini saatnya, kita sama-sama berpikir secara lebih serius bahwa aplikasi-aplikasi prosedural yang selama ini diperlihatkan dalam penelitian sastra, perlu dievaluasi ulang jika itu hanya penelitian demi penelitian itu sendiri atau untuk urusan administrasi dan kepangkatan.

Sudah saatnya, dan tentu kita berharap, pemikiran dan hasil pemikiran kita itu memberi kemaslahatan bersama, memiliki energi yang mampu menyelamatkan kita sebagai manusia dan masyarakat dunia. Kita harus memiliki kesadaran bahwa sastra tidak selayaknya hanya ditempatkan sebagai wacana dan demi wacana itu sendiri. Terdapat kelompok masyarakat tertentu, dan tentu ini sebagai usaha awal berdasarkan hasil pemikiran tertentu, yang menjadikan sastra sebagai sarana dakwah, misalnya. Kenyataannya, hal itu pun menjadi masalah ketika sastra dakwah itu juga tidak mampu menghindarkan dirinya dari belenggu dan tarikan kapitalisme, bahkan kapitalisme populis.

 

Kesimpulan

Tulisan ini adalah sebuah pembicaraan pendek yang mencoba mempersoalkan posisi atau kedudukan sosial para peneliti sastra. Dalam konteks tatanannya, para peneliti perlu bersikap kritis terhadap perkembangan ilmu, khususnya teori-teori sastra,  sehingga hasil kajian bukan saja bermanfaat bagi pengembangan ilmu, tetapi juga dalam jangkauan yang luas memberi kemanfaatan bagi bangsa dan masyarakat. Hasil kajian sastra memberikan implikasi luas terhadap kualitas kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Perlu dipikirkan kembali agar posisi para peneliti tidak semata menjadi tukang teliti, yang hanya memanfaatkan teori-teori yang telah tersedia. Kondisi tersebut dimungkinkan karena kuatnya tekanan arus utama penelitian dalam meletakan dan memposisikan objek material kajian. Perlu ada pergeseran atau suasana lain agar teori-teori yang berkembang bisa menjadi objek material penelitian. Dengan demikian, penelitian tentang teori sebagai objek materialnya memungkinkan kita bersikap kritis terhadap teori bersangkutan, dengan mempersoalkan teori tersebut mencari dan menjelaskan apa, dan akan ke mana teori tersebut membawa kita.

Dengan derasnya gelombang teori “pos-pos”, peneliti sastra telah berada dalam posisi berhadapan dengan kode-kode yang demikian terbuka, kode-kode yang bersifat ambivalen, kontradiktif, dan paradoks. Petualangan terhadap upaya masuk ke dalam kode-kode yang kompleks terebut, akan membawa kita pada banyak temuan yang mungkin tidak atau belum terpikirkan. Akan ada banyak temuan yang selama ini terpendam. Meminjam secara bebas bahasa Foucault, kita perlu menjadi para arkeolog, arkeolog dari hal-hal yang bisu, arkeolog dari hal-hal yang masih terpendam dan dipendam.

 

Daftar Pustaka

Adorno, Theodor W. 1973. Negative Dialectics. London: Roultedge.

Althusser. Louis. 1984. Essay on Ideology. London: Verso

Barthes, Roland. 1973. Element of Semiology. New York: Hill & Wang.

Barthes, Roland. 1976. Mythology. London: Paladin Book.

Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Bourdieu, Pierre. 1977. Outline of a Theory of Practice. England: Cambridge University Press.

Bourdieu, Pierre. 2010. Arena Produksi Kultural, Sebuah Kajian Sosiologi Budaya (terj. Yudi Santosa). Yogyakarta: Jalasutra.

Brooks, Ann. 2011. Feminisme dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

Budiman, Arief. 1985. “Sastra yang Berpublik”, dalam Ariel Heryanto. 1985. Perdebatan Sastra Kontekstual, Jakarta: Rajawali Press.

Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta: Gramedia.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Damono, Sapardi Djoko. 2000. Priayi Abangan: Dunia Novel Jawa Tahun 1950-an. Yogyakarta: Bentang.

Darma, Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Derrida, Jacques. 1978. Writing and Difference. London: Routledge & Kegan Paul.

Eagleton, Terry. 1990. The Ideology of Aesthetic. Oxford: Basil Blackwell.

Eagleton, Terry. 1998/1976. Criticism and Ideology A Studi in Marxist Literary Theory. London: Verso

Eneste, Pamusuk. 1982. Novel-Novel dan Cerpen-Cerpen Indonesia Tahun 70- an. Ende: Nusa Indah.

Faruk. 1994. Pengatar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Foucault, Michel. 1977. The Order of Things. An Archeology of the Human Sciences. London: Tavistock Publication Ltd.

Foucault, Michel. 1987. “The Order of Discourse”, dalam Robert Young, Untying The Text: A Post-Structuralist Reader. London and New York: Routledge and Kegan Paul.

Foulcher, Keit. 1988. “Roda yang Terus Berputar: Beberapa Aspek Perkembangan Sastra Sejak 1965”, dalam Prisma, Jakarta, No. 8 Tahun XVII.

Foulcher, Keit. 1991 (1980). Kesusastraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942. Jakarta: Girimukti Pasaka.

Haridas, Swami Anand. 1986. Sastra Indonesia Terlibat atau Tidak?. Yogya karta: Kanisius.

Hellwig, Tineke. 1994. In The Shadow of Change Images of Women in Indonesia Literature. Certer for Southeast Asia Studies: University of California.

Heryanto, Ariel (ed.). 1985. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: Rajawali Press.

Heryanto, Ariel. 1988.  “Masihkah Politik Jadi Panglima”, dalam Prisma, Jakarta, No. 8 Tahun XVII.

Heryanto, Ariel. 1996. “Bahasa dan Kuasa: Tatapan Posmodernisme”, dalam Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim, Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan.

Jassin, H.B.. 1968. Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Agung.

Jassin, H.B.. 1985/1952. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I. Jakarta Gramedia.

Jassin, H.B.. 1985a/1954. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II. Jakarta Gramedia.

Jassin, H.B.. 1985b/1962. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei III. Jakarta Gramedia.

Jassin, H.B.. 1985c/1967. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV. Jakarta Gramedia.

Junus, Umar. 1974. Perkembangan Novel-Novel Indonesia. Kuala Lumpur: University Malaya.

Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan.

Junus, Umar. 1983. Dari Peristiwa ke Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia. Jakarta Gramedia.

Junus, Umar. 1986. Sosiologi Sastra: Persoalan Teori dan Metode. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kayam, Umar. 1988. “Memahami Roman Indsonesia Modern Sebagai Pencerminan dan Ekspresi Masyarakat dan Budaya Indonesia Suatu Refleksi, dalam Mursal Esten (ed.). Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan. Bandung: Angkasa.

Laurenson, Diana dan Alan Swingewood. 1972. Sociology of Literature. London: Paladin.

Lukacs, Georg. 1978. The Theory of Novel. London: Merlin Press.

Mohamad, Goenawan. 1993. Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Mulder, Neils. 1983. Kebatinan dan Hidup Sehari-Hari Orang Jawa. Jakarta: Gramedia.

Norris, Christopher. 1982. Deconstruction: Theory and Practice. London: Metheun & Co. Ltd.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nursinah, S.. 1969. Kesusastraan Indonesia (Cet. III). Jakarta: Tunas Mekar Murni.

Prabhu, Anjali. 2007. Hybridity: Limits, Transformations, Prospects. New York: States University of New York Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1967. “Penggolongan Angkatan dan Angkatan 66 dalam Sastra”, dalam Horison No. 6. Th. II, Juni.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1988. Beberapa Gagasan dalam Bidang Kritik Sastra Indonesia Modern. Klaten: Dwi Dharma.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.

Rosidi, Ajib. 1964. Kapankan Kesusastraan Indonesia Lahir?. Djakarta: Bharata.

Rosidi, Ajib. 1969. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.

Rosidi, Ajip. 1973. Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia. Djakarta: Pustaka Jaya.

Rusli, Marah. 1999 (1922). Siti Nurbaya. Jakarta: Balai Putaka.

Sastrowardoyo, Subagio. 1980. Sosok Pribadi dalam Sajak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sastrowardoyo, Subagio. 1989. Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sayuti, Suminto A.. 2000. Berkenanal dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.

Siregar, Bakri. 1964. Sejarah Sastra Indonesia I. Jakarta: Akademi Bahasa dan Sastra “Multatuli”.

Soekito, Wiratmo. 1984. Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Yayasan Arus.

Soemargono, Farida. 1983. “Kelompok Pengarang Yogya 1945-1960: Dunia Jawa dalam Kesusastraan Indonesia”, dalam Citra Masyarakat Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Stanton, Robert. 1965/1953. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rienehart and Winston.

Sumardjo, Jakob. 1979. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Sumardjo, Jakob. 1981. Segi Sosiologis Novel Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.

Sumardjo, Jakob. 1982. Novel Indonesia Mutakhir: Sebuah Kritik. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Teeuw, A. 1955. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru I. Jakarta: Pembangunan.

Teeuw, A. 1958. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru II. Jakarta: Pembangunan.

Teeuw, A. 1967. Modern Indonesia Literature. The Hague: Martinus Nijhoff.

Teeuw, A. 1979. Modern Indonesian Literature Vol. II. The Hague: Martinus Nijhoff.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Thompson, John B. 1985. Studies in the Theory of Ideology. Berkeley, Los Angeles: University of California Press.

Toda, Dami N.. 1984. Hamba-Hamba Kebudayaan. Jakarta: Sinar Harapan.

Tong, Rosemarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta: Jalasutra.

Usman, Zuber. 1957. Kesusastraan Baru Indonesia. Djakarta: Gunung Agung.

Utami, Ayu. 1999. Saman. Jakarta: Gramedia.

Watson, C.W.. 1972. The Sociology of the Indonesian Novel 1920-1955. a thesis submitted for the degree of master of arts, University of Hull, unpublished.

Watt, Ian. 1968. The Rise of the Novel. Harmondsworth, Middlesex, England: Penguin Books Limited.

Wellek, Rene, dan Austin Warren. 1956. Theory  of Literature. New York: Harvest Book, Harcourt Grace & World. Inc.

Zizek, Slavoj (Ed.). 1994. Mapping Ideology. London & New York: Verso.

Zizek, Slavoj. 1989/2009. The Sublime Object of Ideology. London & New York: Verso.

Zizek, Slavoj. 1997/2008. The Plague of Fantasies. London & New York: Verso.

[1]Pada dekade 1980-an itu juga, walaupun terhitung tertinggal, Umur Junus (1985) menulis teori sastra resepsi. Selain buku Junus, sambil jalan beberapa pergurungan tinggi juga mempelajari Wolfgang Iser (1978, 1978) dan Hans Robert Jausz (1974, 1975). Buku Iser dan Jausz hingga kini masih dipakai sebagai pegangan penting dalam kajian-kajian resepsi sastra. Elaborasi pertemuan teks dan pembaca membuka berbagai kemungkinan bahwa penafsiran dan pemaknaan bergantung “gudang pengalaman” pembaca sehingga karya sastra dimungkinkan untuk ditafsirkan sesuai dengan sudut dan posisi pengalaman historis dan sosiologis pembaca.

Catatan: 

Tulisan ini diambil dari Academia.edu

Leave a Reply