This post has already been read 3 times!

Jakarta, Monasnews — Penyerapan belanja modal dalam APBNP 2017 yang mencapai  Rp 208,4 triliun atau 92,8 persen dari target, merupakan rekor tertinggi sejak 2014, kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Selasa (2/1/2018).
“Paling positif adalah belanja modal yang meningkat, penyerapannya dari 82 persen menjadi 92,8 persen, atau tertinggi sejak tiga tahun terakhir,” ujar Menkeu dalam keterangannya kepada  pers di Jakarta.

Menurut Sri Mulyani, kenaikan eksekusi  belanja modal, memperlihatkan kuatnya komitmen pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur. “Realisasi ini tumbuh 23 persen yang menegaskan adanya dorongan belanja terhadap pertumbuhan ekonomi dan komitmen atas pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Penyerapan belanja modal pada 2017 ini lebih baik dari realisasi 2014 sebesar 91,6 persen, 2015 sebesar 86,2 persen dan 2016 sebesar 82 persen.

Perbaikan kualitas belanja pemerintah pusat ini tidak hanya terjadi untuk penyerapan belanja modal, namun juga atas efisiensi belanja pegawai dan barang serta bantuan sosial dan subsidi yang tepat sasaran.

Penyerapan belanja pegawai mencapai Rp759,6 triliun atau 95,1 persen, belanja barang sebesar Rp286,7 triliun atau 96,9 persen dan bantuan sosial sebesar Rp54,6 triliun atau 100 persen dari pagu. Secara keseluruhan, penyerapan belanja Kementerian Lembaga telah mencapai Rp759,6 triliun atau 95,1 persen dari pagu sebesar Rp798,6 triliun.

Menkeu menambahkan,  penyerapan belanja non Kementerian Lembaga yang diantaranya mencakup subsidi sudah mencapai Rp500 triliun atau 88 persen dari pagu Rp568,4 triliun.

Dengan pencapaian tersebut, maka realisasi belanja pemerintah pusat dalam APBNP 2017 telah mencapai Rp1.259,6 triliun atau 92,1 persen dari target Rp1.367 triliun.

“Semua belanja yang mempengaruhi masyarakat dan ekonomi mengalami pertumbuhan positif. Ini sesuai dengan tujuan APBN yang ingin melindungi masyarakat dari `shock` merosotnya harga komoditas dan menjaga momentum `growth` tidak merosot dibawah lima persen,” kata Sri Mulyani.***

Categories: EKONOMI