Perubahan Pola dan Modus Terorisme

OLEH HERMAWAN SULISTYO

Pada jaman Orde Baru, teroris menggunakan bom mobil
Pada jaman Jokowi, teroris menggunakan bom panci

Joke yang beredar di dunia maya tersebut,  sekurangnya menyiratkan dua hal. Pertama, setidaknya publik mengenali adanya perubahan-perubahan dalam pola terorisme di Indonesia. Kedua, publik kini tidak ketakutan lagi menghadapi teror, dan malah menjadikan terror sebagai joke.

Namun, ini sekaligus juga menyiratkan ketidaktahuan publik tentang tingkat bahaya dan risiko sebuah teror bom.Joke yang beredar di dunia maya ini sekurangnya menyiratkan dua hal. Pertama, setidaknya publik mengenali adanya perubahan-perubahan dalam pola terorisme di Indonesia. Kedua, publik kini tidak ketakutan lagi menghadapi teror, dan malah menjadikan terror sebagai joke. Namun, ini sekaligus juga menyiratkan ketidaktahuan publik tentang tingkat bahaya dan risiko sebuah teror bom.

Pada yang pertama, tanpa banyak disadari memang telah terjadi perubahan-perubahan-perubahan yang fundamental dalam domain terorisme. Mulai dari pelaku dan jaringannya, baik pada level nasional maupun internasional, motif terorisme, pola-pola tindakan terror, hingga ketersediaan perangkat untuk melakukan tidakan teror.
Dalam hal pengertian, ada banyak sekali definisi tentang terror dan terorisme. Namun semua definisi sekurangnya harus memenuhi sejumlah persyaratan:

  1. Tindakan yang dilakukan menciptakan rasa ketakutan yang meluas dan mendalam;.
  2. Tindakan terror dilakukan tidak dalam situasi dan kondisi perang;.
  3. Sasaran dan atau korban melibatkan warga sipil
  4. Sasaran atau korban tidak dibeda-bedakan atau dipilah-pilah (indiscriminate);.
  5. Memiliki motif yang berkaitan dengan kekuasaan (politik)
  6. Motif bukan sekadar kriminal biasa.

Dari prasyarat pemaknaan tindakan teror tersebut, kebanyakan kajian tentang terorisme terfokus pada pelaku atau jaringan pelaku, motif pelaku, serta modus operandi tindakannya itu sendiri. Jarang sekali dilakukan studi tentang jaringan pendanaan, dan lebih jarang lagi studi tentang perangkat atau instrumen terornys. Kajian tentang pendanaan seperti yang pernah dilakukan Napolitano, tidak ada yang melanjutkan. Bahkan sama sekali belum ada studi tentang persenjataan dan perangkat kekerasan lainnya yang digunakan oleh teroris.

 

PELAKU
Meskipun qua definisi terorisme sudah terjadi semenjak awal peradaban umat manusia, tetapi akar-akar terorisme modern baru berlangsung sejak dekade 1970an di Eropa Barat. Sepuluh tahun pertama dalam periode ini secara kebetulan bertumpang tindih dengan satu dekade transformasi sosial-politik pasca puncak gerakan mahasiswa radikal di Eropa Barat pada tahun 1968.

Efek dahsyat bom panci di Kampung Melayu, Jakarta Timur. (PHOTO: TEMPO)

Pada tahun-tahun tersebut—khususnya 1968 untuk mayoritas Eropa Barat hingga Revolusi Bunga di Portugal 1974—para mahasiswa dan intelektual kritis mengklaim diri mereka sebagai “Kaum Anarkis.” Sebuah labeling yang disebut dengan rasa bangga oleh para aktivis itu sendiri,  dengan instrumen utama radikalisme adalah “bom” Molotov (Molotov cocktail). Perjuangan mereka dilandasi oleh ideologi Sosialis, yang kiri.
Manakala terjadi intereksi antara fenomena politik formal negara dengan gerakan mahasiswa radikal yang “anarkis,” serta tumbuhnya gerakan-gerakan politik off stream yang memilih jalan ekstra radikal dalam format terorisme, maka masuk akal saja jika tumbuh miskonsepsi tentang gerakan mahasiswa radikal yang menjadi embrio terorisme di Eropa Barat pada dasawarsa 1970an. Situasi ini mirip dengan kelindan antara gerakan mahasiswa 98 di Indonesia dengan perkembangan reformasi politik pasca lengsernya Soeharto. Padahal, miskonsepsi seperti itu jelas salah.

Pada jalur yang berbeda, berkembang kelompok teroris yang paling ditakuti di Eropa Barat, dengan home base-nya di Italia, yaitu Brigate Rose (Brigade Merah). Bersama-sama dengan kelompok Baader-Meinhoff di Jerman (Barat, pada saat itu), mereka menjadi antagonis kepolisian selama lebih dari satu dasawarsa. Harus diakui, bahwa sebagian otak perang gerilya kota yang mereka lakukan—dan karenanya, sulit diat5asi oleh kepolisian—adalah orang-orang yang mendalami sosiologi perkotaan dari kalangan “kaum anarkis” 1968.

Tetapi, sebagian kaum anarkis lebih memilih jalan demokrasi perwakilan. Mereka masuk ke dalam pemerintahan dan parlemen. Meskipun orang Pereancis Cohn-Bendit yang merupakan tokoh puncak kaum anarkis dalam gerakan mahasiswa 1968 jusrtru berhasil menjadi anggota, dan kemudian ketua, parlemen Jerman. Tokoh puncak Revolusi Bunga 1974 di Portugal, Alvaro Vasconcelos, memimpin streategic think tank di seputar kepemimpinan Portugal. Begitu pula dengan kaum anarkis di berbagai strategivc think tank di negara-negara Eropa Barat lainnya.

Dalam perkembangan berikutnya, situasi di Asia Tengah pasca Balkanisasi telah menimbulkan kerumitan keamanan internasional. Dalam menghadapi Uni Soviet sewaktu Perang Dingin, Amerika Serikat menerapkan strategi membesarkan anak-anak macan. Al-Qaeda tumbuh menjadi sebuah organisasi teroris dengan kemampuan militer yang kuat. Al Qaeda mampu melancarkan serangan teror yang paling dahsyat dalam sejarah terorisme, yaitu Peristiwa 911 berupa peledakan gedung kembar WTC di New York City.

Pada saat Al Qaeda hancur setelah pemimpinnya Osama bin Laden terbunuh, organisasi ini mengalami metamorphosis dengan sebagian kekuatannya berafiliasi pada suatu gerakan baru yang mula-mula tampak aneh bagi orang luar, yaitu Islamic State of Irak and Syria. Aneh, karena sebagai sebuah gerakan politik, ISIS pada mulanya tak lebih dari sekadar suatu gerakan pemisahan dari sebuah negara. Tetapi, bagaimana bisa membentuk kedaulatan negarab baru yang basis teritorialnya diambil dari dua negara sekaligus?
Bagaimanapun, pembenaran atas “negara ISIS” kemudian berlanjut pada legitimasi keyakinan keagamaan, bahwa “negara” ini diyakini sebagai pusat khilafah bagi kebangkitan kembali kekuasan Islam sejak kekaisaran Ottoman. Manakala keyakinan ini tidak—atau belum?—terwujud, maka terjadi transformasi strategi, yaitu ISIS tak lagi memusatkan perjuangan pada pendirian khilafah yang berpusat di Sham, melainkan khilafah harus dibangun dari berbagai titik di seliuruh dunia. Maka disebarkan lah perjuangan khilafah ke seluruh penjuru dunia. Termasuk Indonesia.
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentu saja Indonesia merupakan lahan yang memikat. Sebagian besar bangsa Indonesia tidak beranggapan bahwa negeri ini bukan lah failed sate. Negara gagal. Sebaliknya, hampir semua pengamat terorisme sepakat, bahwa negara-negara gagal di Timur Tengah lah sumber utama teroris di dunia dewasa ini.

MOTIF
Dilihat dari motif para teroris juga terjadi pergeseran. Mula-mula, motif tindakan yang beyond “ordinary crime” adalah “to fight or struggle for a cause” yang umumnya bersifat politis. Tuntutan IRA adalah separatism. Begitu pula dengan tuntutan MNLA, Tamil Eelam, serta berbagai gerakan separatisme lainnya yang mengambil jalan terorisme demi mencapai tujuan-tujuan politik mereka, atau sekadar luapan rasa frustrasi pada kasus-kasus teror bunuh diri.
Puncak terorisme dengan Peristiwa 911 telah mengubah wajah terorisme dunia. Dua tahun kemudian terjadi peristiwa serupa dengan Bom Bali I, yang bukan hanya mengubah wajah terorisme di Indonesia, melainkan juga mengubah nasib Polri. Kedua peristiwa teror ini mengandung muatan yang bukan sekadar politik. Keduanya secara signifikan menandai munculnya pelaku-pelaku yang menjadi martir bunuh diri: sebagai “pengantin.”

INSTRUMEN
Pada awal terorisme modern—1970an, jika ditarik dari kasus-kasus di Eropa Barat—instrumen utama yang digunakan adalah bom dan  senjata ringan. Bom digunakan untuk memberikan efek terre yang luas bagi publik, sementara senjata ringan untuk melumpuhkan atau mematikan korban, sekaligus alat bela diri dalam hal pelaku diserang.
Bom yang digunakan pada umumnya adalah bom-bom tunggal, mulai dari granat hingga berbagai jenis bom dengan bahan peledak TNT hingga C4. Pada kasus Bom Bali I, jenis bom yang digunakan utamanya adalah “black powder plus,” yaitu dengan memanfaatkan body mobil, khususnya metal bagian mesin, sebagai semacam granat raksasa. Efeknya ternyata jauh lebih dahsyat dari yang diperkirakan oleh pelaku sendiri.

 

RESPON 
Perkembangan lingkungan strategis (lingstra) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung sangat pesat. Negara-negara mengalami kontraksi dan ekspansi. Ketika Uni Soviet mengalami Balkanisasi dan akhirnya luruh sebagai negara konfederasi pada dekade 1980an, banyak yang memperkirakan akan terjadi kontraksi serupa, termasuk di Indonesia.
Di sisi lain, negara-negara juga mengalami ekspansi. Kawasan-kawasan telah menyatukan negara-negara ke dalam entitas kawasan, yang bahkan pada kasus tertentu dianggap melunturkan demarkasi kedaulatan negara-bangsa (nation-state). Pertarungan kontraksi-ekspansi ini belum selesai, dengan contoh mutakhir pada kasus Brexit.

Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) Mabes Polri berhasil menangkap seseorang yang diduga teroris. (PHOTO: TRIBUNJABAR)

Selain itu, sebagaimanba disunggung di atas, peluruhan nation-states negara-negara di Timur Tengah akibat terjadinya situasi failed states atau negara gagal, telah menyebabkan bertumbuh-kembangnya terorisme internasional, yang berdampak langsung pada situasi di Indonesia. Pada sebagian besar  terorisme internasional, mulai dari ideologi, jaringan hingga pendanaan. Apa yang pada mulanya disinyalir oleh Ressa dan Gunaratna, kini sudah menjadi keniscayaan.

Semua perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh sains dan teknologi. Tanpa petunjuk tentang arah kemajuan iptek, akan sangat sulit untuk memetakan jalan ke depan. Gambaran yang disajikan Kaku dan Tyson tentang state of the art iptek masa kini dan proyeksinya dalam satu abad ke depan memang sangat  membantu, tetapi hanya dalam hal peta kecenderungan yang sangat rentan terhadap anomali perubahan.

Sementara itu, Polri yang merupakan instrumen utama negara dalam hal keamanan dan ketertiban umum, masih terseok-seok mengejar ketertinggalan dalam segala bidnng, mulai anggaran dan terutama kualitas SDM. Keutamaan hukum (primacy of law) tetap tidak bisa memberikan rasa keadilan yang didambakann oleh masyarakat, bahkan oleh negara, akibat wajah hukum yang masih compang camping. Polisi pun menjadi berada dalam posisi yang terjepit.

Terutama pada kasus-kasus kejahatan yang ekstrem seperti terorisme. Bahkan juga pada kasus-kasus yang payung hukumnya belum memadai seperti ujaran kebencian (hate speech), sebagaimana direkam oleh Simanjuntak.
Dalam menatap ke depan, respon polisi mula-mula harus beranjak pada situasi semasa (kontemporer). Respon semasa ini harus melampaui  (beyond) koridor klasik tentang HAM. Polisi sudah harus melangkah ke situasi pasca HAM, yaitu penghormatan dan penghargaan pada hak-hak yang diatur dalam kovenan Ecosoc, yaitu hak-hak sipil dan ekonomi yang melampaui isu-isu HAM.

*)Penulis Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Univ. Bhayangkara Jaya (UBJ). Naskah ini disampaikan dalam seminar terorisme dan penanggulangannya di Universitas Bhayangkara Jaya.

Leave a Reply