Risetnya ditolak di tanah air, siswa ini malah diundang Google

Jogjakarta, Monasnews — Christopher Farrel Millenio Kusuma (17), tergolong pemuda yang cerdas, ulet dan pantang menyerah. Hal inilah yang kemudian mengantar  siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta tersebut  menginjakkan  kakinya di markas Google, di Mountain View, California, Amerika.

Putra kesayangan Monovan Sakti Jaya Kusuma dan Hening Budi Prabawati itu, mendapat  undangan perusahaan kelas dunia,  Google Inc.  Farrel, demikian sapaan akrab remaja ini,   diundang  Google karena rancangan penelitiannya tentang “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”.

“Proposal saya lolos,” kata  Farrel. Proposal penelitian itu bermula dari hal sepele sebenarnya. Suatu ketika,  Farrel ingin mengunduh sebuah game. Tapi, “mentok” gara-gara kuata datanya tak mencukupi.  Tatkala itu, dia masih duduk di kelas 10 (kelas 1  SMA).

“Lalu kepikiran, bagaimana caranya mengecilkan game itu, biar bisa main,” ujarnya.  Dia pun mulai  mencari tahu di internet bagaimana cara mengecilkan data. Dia kemudian menemukan data compression. Berdasarkan riset awal yang dilakukannya, dia simpulkan bahwa  data compression belum begitu berkembang. Dari situlah muncul ide untuk melakukan riset,  karena dia menilai dampaknya akan luas.

Semenjak  kelas 1 SMA, Farrel melakukan penelitian secara serius tentang data compression. Satu setengah tahun kemudian,  remaja kelahiran Yogyakarta, 1 Januari 2000 ini, berhasil meneliti   “Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data”. Hasil risetnya  lalu diajukan ke ajang kompetisi di Indonesia, baik regional maupun nasional.  Tapi,  usahanya tak berbuah.  Setidaknya ada 11 kali poposalnya ditolak.

Dia  tidak menyalahkan panitia, tetapi kemudian dia mengevaluasi  apa mungkin caranya kurang tepat dalam menyampaikannya, sehingga mereka sulit dipahami.  “Saya  terus menyempurnakannya sampai-sampai membuat delapan versi,” katanya.

Dia pantang menyerah. Hal ini diilhami pula oleh bagaimana Thomas Alva Edison mencapai sukses dengan 1.000 kali gagal terlebih dahulu.  “Mosok saya baru 11 kali terus menyerah. Untuk jadi Alva Edison saya butuh 989 kali mencoba, saya hitung terus dan masih lama, masih lama,” katanya.

Dan akhirnya, suatu hari  Farrel melihat sebuah pengumuman dari Google tentang lomba penelitian. Tak dilewatkannya,  dia pun mengajukan proposal ke perusahaan raksasa teknologi itu. Setelah sepekan mengirim proposal,  dia menerima  yang memberitahu bahwa dirinya  lolos. Dia kemudian  menjalani tes wawancara untuk memastikan penelitiannya adalah asli karyanya. Farrel dicecar tentang  dasar pemikiran, teori sampai dampak penelitiannya.

Diterima dan lolos. Tapi, sampai di sini masalah belum kelar. Masalah uang untuk akomodasi dan lainnya.  “Saya hanya ada waktu dua minggu untuk mengurus surat-surat, termasuk mencari uang akomodasi. Tapi ternyata Tuhan memberi jalan, dapat sponsor dan mengurus visa bisa cepat, sampai akhirnya berangkat,” tandasnya. Kesampaian, pada  tanggal 15- 20 Februari 2017, Farrel berada di kantor Google Mountain View, California, Amerika. Selama di kantor Google, dia  mempresentasikan penelitiannya di hadapan seluruh peserta dari berbagai negara yang lolos.

“Saya satu-satunya dari Indonesia,” katanya. Selama di Google, dia  melakukan presentasi, mengikuti diskusi, sharing dengan peserta  dari negara-negara lain yang lolos. “Kami  masing-masing didampingi satu mentor dari Google,” jelasnya.***

 

Leave a Reply