Sanggupkah Prabowo melawan "tradisi" gagal para mantan calon presiden

JENDERAL Prabowo Subianto, sekali lagi akan menantang Joko Widodo (Jokowi) dalam pemilihan presiden Indonesia. Dalam kampanye mendatang, apa yang akan dimainkan? Kegelisahan ekonomi di masyarakat,  pengangguran? Akan muncul kembalikah tangan-tangan yang tak terlihat, yang memainkan kampanye hitam?

Mantan  komandan pasukan elite TNI AD (Koppasus) dan calon presiden  pada pemilihan presiden pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo,  amat boleh jadi akan mengajukan tawaran lain untuk jabatan tertinggi di pemerintahan  itu, ketika masyarakat Indonesia mendatangi  tempat pemungutan suara tahun depan untuk memilih presiden/kepala negara.

Sejauh ini belum dapat diduga, apakah pengumuman resmi pencalonan Prabowo akan disampaikan  bulan depan. Meski begitu, pejabat tinggi di partai Prabowo, Partai Gerakan Indonesia Raya, atau Gerindra, mengatakan mereka telah memulai persiapan lebih awal dalam upaya untuk mengatur lebih baik mesin kampanye, yang harus menjawab tantangan yang luas dan berat untuk menarik mayoritas dari 185 juta pemilih di Indonesia. Persiapan juga dimaksudkan untuk menghindari apa yang mereka klaim sebagai kecurangan yang merugikan mereka pada Pilpres 2014.

“Beliau  akan maju,” kata Fadli Zon, wakil ketua DPR  yang juga wakil ketua umum  Gerindra.

“Kami yakin kali ini. Ada ketidakberesan yang tersebar luas dan hasilnya sangat dekat. Persiapan kami kali ini akan cukup. ”

Prabowo, seorang purnawirawan jenderal bintang tiga, yang dalam perhelatan Pilpres tidak jarang dikaitkan kasus  pelanggaran hak asasi manusia dan  kerusuhan anti-Cina pada tahun 1998 yang mematik tergulingnya  mantan ayah mertuanya, Presiden Suharto.  Pencalonan kembali Prabowo sebenarnya akan lebih sulit dijual dibandingkan pada Pilpres 2014. Pada tahun 2014, Prabowo  kalah, karena  Joko Widodo sebagai lawannya menyentak dengan mengusung tema memerangi korupsi dan memperbaiki pelayanan  birokrasi yang buruk.

Kini, akanlah isu pelambatan ekonomi yang akan dijual Prabowo dalam kampanyenya nanti mampu merebut hati mayoritas pemilih untuk mendukungnya? Sentimen keagamaan –meskipun Prabowo juga bukan berasal dari keluarga relegius Muslim, karena di antara keluarganya ada juga yang memeluk non Islam, tetapi sentimen Islam mungkin akan dipakai untuk mendobrak pertahanan Jokowi.

“Masalah ekonomi akan (dipakai) untuk mendorong kampanye,” kata Zon. “Jika Anda pergi ke pasar dan Anda bertanya kepada orang-orang  itu (apakah) hidup mereka lebih baik sekarang daripada empat tahun lalu, mereka berkata,” Tidak. Sulit untuk menemukan pekerjaan yang bagus. ’”

Menjelang pemilu tahun 2014, Joko  menjanjikan pertumbuhan PDB sekitar 7 persen. Sebaliknya, apa yang dia capai pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan “merana” di kisaran 5 persen, sekalipun  triliunan rupiah dipompa ke infrastruktur dari pembangkit listrik ke pelabuhan ke sistem drainase yang lebih baik.

International Labour Organization (ILO) menganggap pendapatan Indonesia sepertiga dari apa yang mereka miliki di negara tetangga Thailand atau Malaysia.

Pada aspek penantang  kekuatan  Prabowo, pada dasarnya tergelar bidang  yang sempit. Anies Baswedan, gubernur Jakarta, yang sukses menyapu kekuasaan dengan gelombang dukungan Muslim konservatif tahun lalu. Sejauh ini, Anies belum ada tanda-tanda untuk berlaga ke Pilpres, seperti yang dulu dilakukan Jokowi saat memimpin Jakarta.  Wali kota reformis Bandung, Ridwan Kamil, mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Barat. Mantan Panglima TNI, disebut-sebut akan mencalonkan diri. Konon, salah satu kendaraan yang dilirik Gatot adalah Gerindra. Lantas, dimanakah Gatot akan mengambil posisi, calon presiden atau wapres saja cukup?

Berkat citra bersih dan rekam jejaknya yang berderit dengan proyek-proyek infrastruktur besar, Widodo menikmati peringkat dukungan berkisar antara 60 persen, menurut survei Januari oleh Indo Barometer, dan 76 persen, menurut survei bulan Desember oleh Saiful Mujani Research and Consulting. Dalam perlombaan empat-arah Widodo menikmati dukungan 43 persen menurut jajak pendapat Indo Barometer, lebih dari dua kali lipat dukungan Prabowo.

Itu berarti untuk mengalahkan Joko Widodo, kandidat lain  mungkin akan memasukkan trik kotor yang melukisnya sebagai pengambil keputusan. Itu tidak akan mudah, kata Kevin O’Rourke, analis urusan Indonesia dan penulis buletin mingguan Reformasi.

“Prabowo harus menggambarkan Widodo sebagai korup,” katanya. “Terakhir kali mereka menggambarkan  Joko Widodo dengan semua yang mereka miliki. Mereka akan mencobanya lagi, tetapi saya tidak berpikir Widodo akan menjadi lebih rentan daripada dia yang terakhir kali. ”

Mungkin memang demikian, tetapi noda-noda itu —yang disangkal oleh Prabowo memiliki peran dalam kampanye hitam —efektif. Desas-desus bahwa Joko Widodo adalah seorang Kristen, atau lahir di Singapura dan keturunan etnis Cina, sangat melumpuhkan bahwa dua digit pimpinannya atas Prabowo menguap. Pada Pilpres 2014 lalu, Joko Widodo menjawabnya dengan membuat  perjalanan  ke Mekah untuk memoles kredibilitas keagamaannya, yang dia lalukan tepat sebelum pemungutan suara. Pada akhirnya, Widodo menang dengan 53 persen suara.

Muhammad Qodari, direktur eksekutif Indo Barometer, mengatakan bahwa peringkat dukungan kepada  Joko Widodo relatif rendah. Sebagai perbandingan, pendahulu Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, rata-rata 80 persen pada titik ini menjelang pemilihan 2009.

Isu yang akan menambah sakit kepala Joko Widodo adalah pentingnya agama di negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Menyusul hilangnya dukungan terhadap  gubernur Jakarta, dan bekas sekutunya saat mengelola Jakarta,  Basuki Purnama, seorang Kristen keturunan etnis Tionghoa, membuktikan fakta politik di Indonesia bahwa agama telah menjadi kartu truf.

Sebuah survei yang dilakukan dua minggu sebelum pemilihan pada bulan April tahun lalu menyarankan Basuki  yang lebih dikenal sebagai Ahok itu, mendapat  dukungan 74 persen. Namun demikian, ia kalah dengan selisih hampir 20 poin dan kemudian dipenjara karena menghina Alquran.

Namun, Prabowo yang berpendidikan di  Inggris dan Swiss, mungkin menjadi kendaraan yang buruk bagi kaum konservatif religius. Bagi orang-orang moderat, tuduhan bahwa ia memainkan peran dalam pembantaian terhadap para demonstran Timor-Leste dan mahasiswa, sekali lagi dapat menganggu keterpilihan Joko Widodo.

Pada tahun 1983, tentara di bawah komandonya dituduh membunuh ratusan orang Timor Leste. Pada 1998, Prabowo dikaitkan dengan penculikan aktivis mahasiswa. Belakangan tahun itu, dia mengundurkan diri lantas pergi ke Yordania setelah dipanggil kesaksiannya untuk mempertanggungjawabkan dugaan tersebut. Prabowo ditolak visa AS pada tahun 2000, dan  itu dianggap hal itulah yang menjadi  latar belakangnya. Penafsiran.

Meski begitu, mitra koalisi parlementer Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikenal sebagai kelompok Muslim garis keras, bisa memberikan traksi Prabowo. Partai ini memiliki jaringan nasional dan membantu mengorganisir unjuk rasa massa di akhir 2016 yang akhirnya mengarah pada pemecatan Purnama. Sudah, Gerindra dan PKS telah berkoordinasi dalam pemilihan calon gubernur pada pemilihan daerah terutama di provinsi-provinsi yang kaya suara di seluruh Jawa.

“PKS mau bekerja keras, (kader) mereka keluar (rumah) dan mengetuk pintu,” kata Qodari. “Semacam itu mobilisasi pemilih ternyata dapat membuat perbedaan.”

Partai ini mengharapkan untuk menarik para pemilih dengan kebijakan populis yang berusaha untuk memutar kembali sebagian besar reformasi Widodo. Reintroducing subsidi bahan bakar untuk membantu menurunkan biaya hidup ada di atas meja, kata Zon.

Widodo menghilangkan manfaatnya, yang menghabiskan sebanyak seperlima anggaran, untuk membebaskan uang tunai untuk infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan yang diperbaiki, dan perawatan kesehatan gratis. Widodo telah berjanji bahwa investasi infrastruktur akan mendorong ekonomi dan menambah pekerjaan. Zon mengatakan program itu gagal dan sekarang pendekatan yang lebih sederhana menargetkan petani miskin, nelayan dan usaha kecil adalah prioritasnya.

“Jokowi menempatkan prioritas ke infrastruktur. Tetapi itu tidak mendorong pertumbuhan ekonomi, ”kata Zon.

Fadli Zon mengatakan bahwa pemerintahan Prabowo akan terus mendukung pengawas korupsi negara, Komisi Pemberantasan Korupsi, menunjukkan bahwa Gerindra tidak ikut serta dalam sidang parlemen yang berakhir Januari lalu untuk meminta sanksi kepada badan tersebut.

Pejabat senior partai Gerindra mengatakan secara pribadi mereka akan mengirim relawan ke tempat pemungutan suara di setiap pemilihan daerah yang dijadwalkan untuk Juni dan pada pemilihan presiden tahun depan untuk memastikan tidak ada gangguan dengan kotak suara. Marjin kemenangan 8 juta suara pada tahun 2014 berjumlah kurang dari 16 suara untuk masing-masing dari 550.000 kotak suara negara tahun itu.

Yang pasti, sejauh ini Joko Widodo masih tetap menjadi favorit untuk menang. Tetapi dia harus bekerja keras untuk menjangkau umat Muslim untuk memastikan kemenangan. Qodari mengatakan prioritas Widodo adalah menemukan seorang calon wakil presiden dari kalangan  konservatif Muslim.

 

Jejak Sejarah di Amerika

Ada pertanyaan yang cukup menganggu, adakah Prabowo yang pernah gagal dalam Pilpres akan memenanginya pada Pilpres 2019 nanti? Sejauh ini, mereka yang pernah mencalonkan dan kalah, lantas kembali mencalonkan diri, pada umumnya gagal membalikkan keadaan yang didapat pada pemilihan sebelumnya. Jelas, dibutuhkan miracle dan kerja keras untuk membalikkan keadaan seperti itu.

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan terjadi pula di Amerika Serikat. Adlai Stevenson pertama kali memenangkan nominasi sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada tahun 1952, tetapi kalah dalam Pilpres saat berhadapan dengan calon dari Partai Republik, Eisenhower. Partai Demokrat kembali menominasikan Stevenson pada tahun 1956 dalam apa yang disebut merupakan pertandingan ulang dari pemilihan presiden empat tahun sebelumnya. Hasilnya sama: Eisenhower mengalahkan Stevenson untuk kedua kalinya. Stevenson sebenarnya mencari peluang untik mendapatkan nominasi presiden untuk ketiga kalinya, tetapi Demokrat memilih Kennedy sebagai gantinya.

Lantas Thomas Dewey pertama memenangkan nominasi presiden dari Partai Republik pada tahun 1944, tetapi kalah dalam pemilihan tahun itu untuk Franklin D. Roosevelt. GOP menominasikan Dewey lagi pada tahun 1948, tetapi mantan gubernur New York itu kehilangan dukungan pada saat Pilpres dikalahkan calon Demokrat Harry S. Truman.

William Jennings Bryan yang bertugas di House of Representatives AS dan sebagai menteri luar negeri, dinominasikan untuk presiden tiga kali terpisah oleh Partai Demokrat: 1896, 1900 dan 1908. Bryan kehilangan suara masing-masing dari tiga pemilihan presiden, untuk William McKinley dua pemilihan pertama dan akhirnya ke William Howard Taft.

Demikian pula Henry Clay yang mencalonkan diri sebagai presiden tiga kali, kalah dia pun kalah tiga kali. Clay, yang mewakili Kentucky di Senat dan House of Representatives, dinominasikan untuk presiden tiga kali oleh tiga partai yang berbeda, dan kalah sebanyak tiga kali. Clay adalah calon presiden Partai Republik Demokratik yang gagal pada tahun 1824, Partai Republik Nasional pada tahun 1832, dan Partai Whig pada tahun 1844.

Kekalahan Clay pada tahun 1824 terjadi di tengah-tengah medan yang padat, dan tidak ada satu kandidat pun yang memenangkan cukup suara pemilih, sehingga tiga pengambil suara teratas pergi ke depan Dewan Perwakilan, dan John Quincy Adams muncul sebagai pemenang. Clay kalah dari Andrew Jackson pada 1832 dan James K. Polk pada 1844.

William Henry Harrison, seorang senator dan perwakilan dari Ohio, pertama kali dinominasikan sebagai presiden oleh Whig pada tahun 1836, tetapi kalah dalam pemilihan tahun itu untuk Demokrat, Martin Van Buren. Dalam pertandingan ulang empat tahun kemudian, pada 1840, Harrison menang.

***

Leave a Reply