Sejumlah simpatisan kelompok teroris ditengarai sembunyi di Kepri

Batam, Monasnews — Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) mengakui profil kewilayahan kepulauan, telah dimanfaatkan jaringan kelompok teroris untuk bersembunyi di daerah tersebut. Pihaknya  menengarai sejumlah orang yang terindikasi sebagai simpatisan jaringan teroris, kini bersembuyi di Kepri.

Hal itu diungkapkan Kapolda Kepri Irjen Pol Drs Sam Budigusdian, saat memberikan materi ceramah dalam Dialog Umaro dan Ulama yang berlansung di Asrama Haji, Kota Batam,Jumat (3/11/2017). Kegiatan itu merupakan kerjasama antara Polda Kepri dengan Muslimat NU Kepri, Puskamnas Universitas Bhayangkara Jaya Jakarta, Rumah Kamnas dan Concern Stategic Think Thank.

Sam Budi menengarai para simpatisan jaringan teroris tersebut bersembunyi di Kota Batam, Kab. Karimun dan Tanjung Pinang.  Polisi mencium ada tujuh  orang yang terindikasi menjadi  simpatisan atau anggota jejaring radikalisme, di Karimun seorang dan di Tanjung Pinang juga ada seorang.

Situasi tersebut menurutnya tidak lepas dari adanya kelompok-kelompok yang terus menghidupkan dan menyerukan darul Islam. Untuk itu, Sam Budi menilai pentingnya dukungan semua pihak di Kepri untuk bahu-membahu dalam bersama-sama mencegah dan memerangi kegiatan orang-orang yang diduga terkait dengan kelompok radikalisme dan terorisme.

Pengurus Wilayah NU Kepri M Zaainuddin mengungkapkan, untuk dapat memerangi kelompok radikal di Kepri, masyarakat hendaknya jangan gampang silau dengan amaliah keagamaan kelompok-kelompok yang selalu menyuarakan perjuangan terbentuknya negara Islam di Indonesia. Dia mengajak Ibu-ibu untuk waspada mengenai hal ini.

Kelompok tersebut dalam perjungannya menggunakan radio, televisi dan juga sekolah. Untuk sekolah, mereka memolesnya dengan jualan tahfidz Quran. “Ibu-ibu harus waspasa, jangan silau hal tersebut,” katanya.

Kepala Puskamnas Hermawan Sulistyo mengingatkan, agar ibu-ibu mencermati pergaulan anak remaja, karena remaja dan mahasiawa menjadi sasaran “pencucian” otak kelompok radikal.

Bahkan, tandas Hermawan, anak seorang kyai pengurus PBNU juga digarap. Hasilnya, begitu pulang setelah menghilang beberapa bulan, ketika bertemu ia mengkafirkan ayahnya.***

Leave a Reply