This post has already been read 4 times!

Batam, Monasnews — Sekalipun indeks prestasi akademis peserta didik dari Kabupaten Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau di bawah rata-rata dari wilayah Kabupaten dan Kota yang ada di provinsi tersebut, namun berkat gemblengan Sekolah Polisi Negara Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (SPN Polda Kepri), ranking pertama untuk Angkatan I SPN Polda Kepri mampu diraih oleh peserta didik dari Natuna.
“Memang secara akademis anak-anak yang berasal dari Kep. Natuna, dibawah dari wilayah lain di Kepri. Tetapi, pendidikan yang mereka jalani kan sebuah pengetahuan dan keterampilan yang sama sekali baru bagi semua peserta. Jadi, mereka startnya sama-sama nol. Jadi siapa yang tekun dan disiplin di sini, ya hasilnya akan memuaskan,” kata Kepala SPN Polda Kepri, Kombes Pol Drs Octo Budhi Prasetyo. Hal itu disampaikan saat mengantar keliling meninjau fasilitas SPN yang berlokasi di Tanjung Batu, Pulau Kundur, Kepri.
Octo tidak memungkiri, standar masuk SPN peserta didik dari Kep. Nantuta sedikit lebih rendah dibandingkan yang dari wilayah lain. Namun, setelah diterima danj menjalani pendidikan di SPN, tidak ada perlakuan istimewa untuk seluruh peserta didik.

SPN Poda Kepri tergolong yang termuda di lingkungan Polri. SPN ini baru beroperasi sejak 4 April 2016. Lokasinya di bekas Mako Polair, di Tanjung Batu, Pulau Kundur. Sekalipun usianya masih sangat muda, namun SPN ini terbilang istimewa. Mengapa demikian, karena sama sekali pembiayaannya belum menyentuh anggaran dari APBN.

Bangku kuliah di SPN.

Apa yang dilakukan oleh SPN Polda Kepri ini, tidak lepas dari pendekatan atau  lobi yang dilakukan oleh Kapolda Kepri Irjen Pol Drs Sam Budigusdian, MH. Kapolda  tampaknya mengembangkan jalinan komunikasi yang baik, dengan selalu menyambung silaturohmi dengan semua stake holder di Kepri. Sejumlah masalah pelik di Kepri, seperti “perselisihan” antara Pemkot Batam dan Otorita, yang dapat dibantu penyelesaiannya oleh Polda, tampaknya memberi kesan mendalam kepada stake holder yang ada di wilayah  tersebut.

Jadi, ketika Polda Kepri ingin mendirikan dan menyelenggarakan SPN, dukungan pun datang dari berbagai pihak. Komitmen, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga anggaran.   Pol Octo Budhi Prasetyo, SIK saat ditemuai di kantornya di Tanjung Batu.

Menempati area 16,8 hektar, fasilitas bangunan SPN memanfaatkan bekas gedung Mako Polair Ria, yang tidak dimanfaatkan. Untuk merehabilitasi gedung tersebut, digandenglah Pemprov Kepri dan pemerintah Kab/Kota di wilayah Kepri. Barak-barak dinamai Polres masing-masing yang mengkoordinir rehabilitasi sampai dengan dapat dimanfaatkannya barak tersebut, baik untuk peserta didik maupun tenaga pendidiknya (gadik).

Angkatan pertama 2016, SPN mendidik 200 peserta yang masing-masing berasal dari Polda Kepri sebanyak 77 orang dan titipan Polda Metro Jaya sejumlah 123 orang. Untuk angkatan kedua, seluruh peserta sudah berasal dari Polda Kepri saja.

Namanya juga satker baru, kebutuhan staf baik struktural maupun pendukungnya, belum lengkap. Dari kebutuhan personel yang standar, sejauh ini baru diisi 30 persennya. Posisi Waka SPN misalnya, masih kosong. Beberapa posisi jabatan lainnya, juga belum terisi. Mungkin ada kaitannya dengan posisi Tanjung Batu, yang bagi sementara orang kurang menarik.

“Kalau yang suka dugem, pasti nggak suka kalau ditempatkan di sini.Saya merasa nyaman di sini, karena udara segar, tidak ada polusi. Nggak stres seperti ketiak bertugas di Ciputat dulu,” kata Octo.

Seperti SPN lainnya, SPN Polda Kepri juga menyelenggarakan Program, Pelatihan (Prolat). Apa dan bagaimana pendidikannya, mengacu pada kebijakan Mabes Polri. Untuk bagian satu ini, Octo punya harapan, agar satker yang mengirim perserta Prolat, sesuai dengan pelatihan yang diadakan. “Kalau mengirim personel yang tidak sejalan dengan program tersebu, sepulang dari sini ya tidak dapat dimanfaatkan. Jangan salah kirim, sayang waktu dan anggarannya,” kata Octo.***

Categories: NASIONAL