This post has already been read 10 times!

Uber akhirnya melepas bisnisnya di Asia Tenggara kepada rivalnya,  Grab.

Uber dan Grab menurut laporan  Bloomberg, telah mencapai kesepakatan bisnis, dan  akan diumumkan  secara resmi pada Senin pagi (26/3/2018) di Singapura.

Kesepakatan itu menempatkan  Uber sebagai pemegang saham  sebesar 25%—30% di dalam bisnis Grab. Persaingan ride hailing di Asia Tenggara kini praktis tinggal menyisakan Grab dan Go-Jek, setelah Uber memutuskan hengkang.

Langkah konsolidasi itu tak lepas dari inisiatif SoftBank Group sebagai penyuntik modal Grab, Uber, dan Didi Chuxing di China. Softbank mendorong seluruh unit bisnisnya melakukan konsolidasi untuk dapat meningkatkan profitabilitas bisnisnya secara global.

Hengkangnya Uber pada suatu kawasan regional bukan merupakan sesuatu yang baru. Sebelumnya Uber pun melepas bisnisnya di China kepada kompetitornya Didi Chuxing. Sebagai gantinya, Uber memperoleh kepemilikan saham sebesar 17,5% di dalam Didi Chuxing.

Uber juga  melepas unit bisnisnya di Rusia kepada perusahaan penyedia layanan Internet Yandex, tatkala Dara Khosrowshahi mengambil alih posisi CEO Uber menggantikan Travis Kalanick.

Uber kini tengah gencar membenahi arus kas perusahaan untuk mempersiapkan go public pada tahun depan. Menarik diri dari pasar Asia Tenggara merupakan salah satu terobosan yang diambil Uber untuk mendongkrak profitabilitas.

Sejak pertama kali didirikan, Uber  sudah menghabiskan senilai US$10,7 miliar untuk ekspansi pada berbagai kawasan. Kini Uber tengah memfokuskan bisnisnya pada beberapa pasar utama seperti Jepang dan India.

Grab merupakan platform aplikasi penyedia transportasi daring terbesar di Asia Tenggara yang mencatatkan sebanyak 86 juta unduhan. Grab tersedia pada lebih dari 200 kota di Indonesia, Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.***