World AIDS Day: Memanusiakan ODHA

AIDS telah menjadi salah satu sumber penyebab kematian penting di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Sejauh ini, belum ada produk farmasi yang dapat membunuh virus HIV, si penyebab lenyapnya kekebalan tubuh penderita AIDS. Situasi tersebut, tampaknya menjadi salah satu alasan, mengapa masyarakat kemudian enggan atau bahkan tidak mau berbagul dengan penderita HIV/AIDS.

Sekalipun berbagai penyuluhan melalui bermacam media telah menegaskan bahwa HIV/AIDS hanya dapat ditularkan melalui hubungan seks dan transfusi darah, namun banyak masyarakat masih belum bisa memperlakukan penderita HIV/AIDS secara apa adanya. Orang yang hidup dengan AIDS masih didiskrimanasikan. Sikap itu, bahkan dilakukan oleh oknum pelayan keseharan.

Persoalan seperti itu bukan monopoli negara berkembang, tetapi juga kepahaman mengenai pentingnya memanusiakan ODHA, juga masih menjadi masalah di negara maju. Politikus Partai Republik Amerika Serikat,  Betty Price, dalam  sebuah pernyataan pada Oktober 2017 lalu, melempar ide atas kemungkinan  melegalisasi tindakan karantina terhadap ODHA.

Ahli anestesi yang merupakan wakil  rakyat dari negara bagian Georgia itu, menilai  bahwa karantina perlu dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus HIV, virus  penyebab penyakit AIDS tersebut. Dia menkhawatirkan, tanpa langkah itu, jumlah penderita HIV/AIDS di Amerika akan terus meningkat. Data per  tahun 2014 menyebutkan,  sebanyak 1,1 juta orang di Amerika  terinfeksi HIV. Satu  dari 7 orang penderita, ternyata tak menyadari mereka terinfeksi HIV.

Ide  Betty Price yang kontroversial itu, langsung mengundang komentar yang menentangnya.  Kelompok yang selama ini melakukan advokasi terhadap ODHA,  tegas-tegas memproternya. Bayangkan, komentar seperti disampaikan oleh Betty masih terjadi di  abad 21. Tidak masuk akal ada pendapat yang  menyudutkan mereka yang terinfeksi HIV. Itu sama sekali komentar yang  tak  bermartabat.

Secara historis, sejak dikenal pada  tahun 1980-an, masyarakat telah memperlakukan ODHA  dengan sangat buruk. Penderita dikucilkan dari  pergaulan di masyarakat, dan perawatan keesehatan bagi penderita belum seoptimal seperti sekarang. Ibaratnya, para ODHA dibiarkan mati pelan-pelan dalam kesunyian.

Perkembangan medis cukup fantastis, sekalipun sampai sekarang belum ada  obat penyembuh HIV/AIDS. Yang menyejukkan hati, tingkat harapan hidup bagi ODHA  yang menjalani terapi Antiretroviral, hampir menyamai tingkat harapan hidup orang  yang tidak terinfeksi HIV. Prof Helen Stokes-Lampard (Royal College GP) mengungkapkan,  ada sebuah capaian medis  luar biasa. Infeksi HIV/AIDS  yang semula punya prognosis buruk, kini dapat dikelola.Hasilnya,  mereka yang terinfeksi HIV bisa hidup secara signifikan lebih lama.**

Leave a Reply